Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Rustam & Pesta Ulang Tahun
“Ibu tak setuju kamu pergi ke Pesta itu, itu Pestanya orang-orang kaya Nak..” nasehat ibunya
“Aku akan pergi ke Pesta itu Bu, karena Aku diundang,” katanya. “Dan aku diundang karena Randi temanku.”
“Oh ya? Temanmu? Kamu terlalu banyak berkhayal.!!” ibunya menghela nafas.”Dengarkan Ibu, Randi bukan temanmu, ia anak majikan ibumu. Sadar Rustam, kamu ini cuma anak pembantu, apa pantas kamu datang ke Pesta itu???”
Rustam memejamkan mata erat-erat, tapi ia tidak menangis. Tiba-tiba ia berteriak, “Diamlah! Tahu apa Ibu tentang persahabatan!!”
“Aku akan tetap pergi ke pesta itu karena pesta ulang tahun itu akan menjadi pesta ulang tahun paling indah di seluruh dunia. Randi yang berkata seperti itu kepadaku. Nanti akan ada pesulap yang membawa ular yang sangat besar.” Katanya memaksa.
“Pergilah kau dengan kepercayaan akan semua omong kosong itu!!!” ibunya putus asa menasehati.
Sakit hati Rustam mendengar perkataan ibunya. Ia berfikir, tidaklah adil jika ibunya menuduh orang lain pembohong hanya karena orang itu kaya. Ia juga berfikir, akankah ibunya berhenti mencintainya jika suatu hari nanti ia menjadi orang kaya.
“Aku akan pergi ke Pesta itu Bu, karena Aku diundang,” katanya. “Dan aku diundang karena Randi temanku.”
“Oh ya? Temanmu? Kamu terlalu banyak berkhayal.!!” ibunya menghela nafas.”Dengarkan Ibu, Randi bukan temanmu, ia anak majikan ibumu. Sadar Rustam, kamu ini cuma anak pembantu, apa pantas kamu datang ke Pesta itu???”
Rustam memejamkan mata erat-erat, tapi ia tidak menangis. Tiba-tiba ia berteriak, “Diamlah! Tahu apa Ibu tentang persahabatan!!”
“Aku akan tetap pergi ke pesta itu karena pesta ulang tahun itu akan menjadi pesta ulang tahun paling indah di seluruh dunia. Randi yang berkata seperti itu kepadaku. Nanti akan ada pesulap yang membawa ular yang sangat besar.” Katanya memaksa.
“Pergilah kau dengan kepercayaan akan semua omong kosong itu!!!” ibunya putus asa menasehati.
Sakit hati Rustam mendengar perkataan ibunya. Ia berfikir, tidaklah adil jika ibunya menuduh orang lain pembohong hanya karena orang itu kaya. Ia juga berfikir, akankah ibunya berhenti mencintainya jika suatu hari nanti ia menjadi orang kaya.
*****
Bu Melda, ibunya Randi tampak memperhatikan penampilan Rustam. Begitu melihat Rustam datang, ia berkata, “Betapa tampannya kamu har ini, Rustam.”
Rustam semakin bangga akan penampilannya. Ia berjalan memasuki ruang pesta dengan langkah-langkah pasti. Disapanya Randi dan ditanyakannya perihal ular itu. Randi segera menarik tangan Rustam agar mendekat, dan ia berbisik, “Ular itu ada di dapur, jangan beritahu siapapun. Ini akan menjadi sebuah kejutan.”
Rustam memasuki dapur, ia ingin membuktikan kebenaran perihal ular itu dan ular itu benar-benar ada. Rustam satu-satunya anak yang diizinkan ke dapur. Bu Melda telah mengatakan, “Rustam saja, yang lain tidak. Mereka terlalu berisik dan ceroboh, mungkin sekali mereka nanti akan memecahkan sesuatu jika diizinkan masuk dapur.”
“Apakah kamu yakin kamu bisa membuatkan sirup sari jeruk untuk semua undangan yang hadir??” tanya bu Melda.
“tentu saja bisa, saya telah terbisaa melakukannya” jawab Rustam.
“Kamu memang hebat”
Rustam tersenyum bangga.
“Apa kamu juga bisa membantu Ibu membagikan sirup dan kue-kue ini kepada tamu undangan??”
“Tentu saja bisa, saya akan melakukannya dengan sangat hati-hati, tak akan ada sirup ataupun kue yang akan tumpah atau terjatuh.”
“Kamu benar-benar hebat Rustam, anak lain mana mungkin bisa.”
Rustam kembali tersenyum, semakin bangga dengan dirinya.
*****
Rustam memasuki ruang pesta, beberapa anak berebut meminta minum dan kue kepadanya, mereka berteriak memangilnya, “Saya, saya, saya minta!!”. Rustam merasa dirinya seperti raja yang sedang membagi-bagikan makanan kepada rakyatnya. Untuk anak-anak yang baik padanya, ia berikan potongan kue yang besar, sementara untuk bocah gendut yang mengejeknya saat bertemu di halaman rumah tadi, ia berikan potongan yang paling tipis.
Semua undangan tampak gembira dan menikmati jalannya acara. Hampir dalam setiap perlombaan di acara tersebut Rustam menjadi pemenangnya. Dari lomba lari sampai lomba tebak-tebakkan.
Tibalah acara bersama si tukang sulap, acara yang paling dinanti oleh Rustam. Pesulap itu tinggi, tampan, mengenakan pakaian serba hitam. Ia benar-benar pesulap sungguhan, ia dapat melepaskan simpul pada sapu tangannya dengan meniupnya, dan membuat rantai yang tak berujung. Ia dapat menebak kartu apa yang akan ditarik keluar dari kotaknya. Dan permainan sulap yang terakhir adalah permainan sulap yang sangat menakjubkan. Seorang anak harus mengangkat ular besar ditangannya kemudian si tukang sulap akan menutupnya dengan kain hitam dan akan membuatnya menghilang.
Rustam berfikir, ternyata benar sepertinya pesta ini akan menjandi pesta paling menyenangkan di seluruh dunia.
Tukang sulap itu menyuruh seorang anak lelaki kecil yang gemuk. Tetapi jangankan mengankat ular itu, memegangnya saja ia tidak berani.
“Pengecut.” Lirih si tukang sulap.
Si tukang sulap melihat berkeliling seolah mencari lalat, ia memandang semua wajah satu per satu. Rustam merasakan jantungya berdebar-debar.
“Kamu yang disana.” Situkang sulap menunjuk ke arah Rustam.
Semua wajah menatap ke arah Rustam.
Rustam sama sekali tak merasa takut. Tidak pada saat ia menjunjung ular itu, maupun pada saat tukang sulap membuat ular itu menghilang; bahkan tidak juga ketika tukang sulap membaca mantera dan ular itu muncul kembali. Anak-anak bertepuk tangan dengan riuh. Dan sebelum Rustam kembali ke tempat duduknya, tukang sulap itu berkata, “terima kasih banyak, bocah pemberani.”
Rustam begitu gembira dengan pujian tersebut, ia tak pernah merasa segembira ini selama hidupnya.
Pesta berakhir. Tak lama kemudian ibu Rustam datang untuk menjemputnya. Begitu juga dengan orang tua anak-anak yang lain. Bu Melda menyuruh mereka berdua, Rustam dan Ibunya menunggu di depan pintu, sementara anak-anak yang lain berbaris didampingi orang tua masing-masing untuk menerima hadiah yang dibagikan oleh Ibu Melda. Untuk setiap anak laki-laki yang hendak meninggalkan pesta bu Melda menghadiahkan yoyo yang ia ambil dari tas besar berwarna hijau. Sedangkan untuk setiap anak perempuan bu Melda menghadiahkan sebuah gelang bercorak bunga-bunga yang ia ambil dari tas besar yang satunya yang berwarna biru. Memperhatikan hal tersebut, Rustam berfikir, apakah ia juga akan mendapatkan yoyo seperti anak laki-laki yang lain, atau mungkin sesuatu yang lebih spesial dari yoyo atau gelang, karena hari ini, “Akulah hadirin yang bersikap paling baik di pesta itu”.
Semua anak dan orang tuanya telah meninggalkan pesta, tinggal Rustam dan ibunya yang dari tadi masih menunggu di depan pintu. Bu Melda mendatanginya dengan senyum lebar. Rustam merasa senang karenanya. Bu Melda memandanginya, lalu beralih kepada ibunya dan kemudian mengucapkan sesuatu yang membuat Rustam sangat bangga, “Anakmu benar-benar mengagumkan.”
Seketika itu juga, Rustam berfikir bahwa bu Melda akan memberinya hadiah yang sangat istimewa. Bu Melda meletakan kedua tas besar yang berisi yoyo dan gelang. Ia mengambil sesuatu bukan dari kedua tas besar itu, tapi dari sebuah tas kulit kecil berwarna kecoklatan.
“Ternyata benar, bu Melda tidak akan memberiku yoyo ataupun gelang, karena ia akan memberiku sebuah hadiah yang ia ambil dari tas yang berbeda, hem.. kira-kira apa yah?? Aku yakin pasti sesuatu yang spesial.” fikir Rustam, gembira.
Ternyata apa yang dikeluarkan bu Melda dari tas kulitnya, selembar uang kertas berwarna biru.
“Kamu sungguh-sungguh membutuhkan ini,” katanya sambil memberikan uang kertas itu kepada ibunda Rustam. “Terima kasih atas semua bantuanmu, Nak.” Lanjutnya sambil menatap Rustam dengan senyum lebar.
Rustam merasa kedua tangannya membeku, menempel rapat pada tubuhnya, dan kemudian ia memperhatikan tangan ibunya yang sedang menerima pemberian Ibu Melda. Ia menempelkan tubuhnya pada tubuh ibunya, sementara matanya menatap dingin ke arah bu Melda, seolah-olah hendak menelanjanginya kemudian mencabik-cabik tubuhnya.
*****
“Bagaimana Rustam, apa kau gembira hari ini ?” Tanya Ibunya di perjalanan pulang.
Sebenarnya semenjak di pesta tadi ia ingin bercerita pada ibunya, bahwa ular besar itu bukan omong kosong, dan pesta tadi benar-benar pesta yang paling indah di seluruh dunia. Ia juga ingin menceritakan bahwa di pesta tadi ia adalah anak terhebat yang paling bahagia. Tapi selembar uang kertas tadi merusak semua rangkaian kalimat yang telah ia karang untuk ia ceritakan kepada ibunya. Dan ia menjawab pertanyaan ibunya dengan kata, “Aku lelah, bu.”
*****
Hahahahahah Rustam…Rustam… tentu saja Kau lelah, karena hari ini kau bekerja, bukan berpesta. Sebanyak apapun “HAL” hebat yang kau lakukan hari ini, tak akan mengubah kedudukanmu sebagai anak seorang “PEMBANTU”. Benar, di hadapan Tuhan semua manusia “SAMA”, tapi “TAK AKAN PERNAH SAMA” dihadapan sesama manusia.
Daun Singkong Pak Kasmun
Matahari masih
tampak malu menunjukan dirinya, bersembunyi, mengintip dari balik lembaran
selendang jingga yang membentang di langit timur. Sementara sang ayam jantan
telah terjaga dari tidurnya sejak beberapa jam yang lalu. Juga sekelompok
burung gereja yang terlihat bersemangat menyambut hari, bergerombol berbaris
rapi, terbang menuju atap-atap rumah dan pohon-pohon. Tak lain halnya dengan
Pak Kasmun, bapak tua berumur 60 tahunan, berkulit legam yang lengannya
dipenuhi otot-otot yang menonjol sebagai bukti bahwa ia pekerja keras. Ia telah
siap dengan topi capingnya(sebuah topi yang terbuat dari anyaman bambu
berbentuk kerucut) dengan membawa cangkul dan parang ia menuju ke sawah.
Bersama setiap kayuhan sepedanya terkumpul amal-amal sholeh, karena setiap
pekerjaannya diawali dengan basmallah dengan niat Ibadah.
Di hari-hari bisaa
ia tak berangkat sepagi ini, tapi karena beberapa hari ini ada seseorang yang
merusak tanaman singkongnya, ia terpaksa berangkat lebih awal dari bisaanya. Ia
ingin tahu siapa orang yang selama ini merusak, memetik daun-daun singkongnya.
Sesampainya di
sawah ia bersembunyi, mengintai dari balik rumput-rumput ilalang yang letaknya
tak jauh dari tanaman singkongnya. Hingga tak berapa lama ia menunggu terlihat
anak kecil berumur 8 tahunan yang mencurigakan, sesekali menengok ke kanan dan
ke kiri berjalan menuju tanaman singkong Pak Kasmun. Kemudian memetik daun-daun
singkongnya dan memasukannya ke dalam kantong kresek yang ia keluarkan dari
saku bajunya.
Pak Kasmun yang
melihatnya spontan marah, ia keluar dari persembunyiannya sambil
mengacung-acungkan parangnya kearah bocah tadi,
“Bocah sialan,
tak tahu adab, apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan kebajikan!!!” Teriak
Pak Kasmun lantang.
Sang bocah lari
ketakutan. Pak Kasmun merasa apa yang ia lakukan hari ini pasti membuat bocah
itu jera dan tak akan kembali lagi.
*****
Hari berikutnya,
Masih Matahari
yang sama, langit yang sama, burung-burung gereja yang mungkin sama, topi caping
yang sama, cangkul dan parang yang sama dan semangat yang sama pula, Pak Kasmun
menuju sawahnya. Dan kembali ia lihat bocah yang sama, kembali memetik
daun-daun singkongnya.
“Ahhh, belum
kapok itu bocah.” Gumamnya dalam hati. “Anak siapa sebenarnya ini bocah???”
Karena penasaran
Pak Kasmun membiarkan bocah tadi memetik daun-daun singkongnya sampai puas,
kemudian diam-daiam mengikuti bocah tadi menuju ke rumahnya. Pak Kasmun berniat
menemui orang tuannya untuk memberitahukan kelakukan anaknya agar mau
menasehatinya.
Sampailah di sebuah
rumah kecil berukuran 6x7m dengan kondisi rumah yang tak begitu baik. Bocah
tadi masuk ke dalam rumah itu dari pintu belakang, tanpa ia sadari Pak kasmun
masih mengikutinya. Dari balik pintu yang sedikit terbuka Pak Kasmun mengintip
apa yang dilakukan bocah itu. Kemudian apa yang terjadi ? Pak Kasmun terlihat
menangis. Kenapa? Yah, Pak Kasmun menangis karena ternyata di dalam rumah itu
ada adik dari bocah itu yang menunggu-menunggu kedatangannya. Yang terlihat gembira
saat melihat kakanya pulang dengan membawa sekantong kresek daun singkong
sambil berteriak :”Horee… Hari ini kita makan pakai lauk, Horee… hari ini nggak
cuma nasi yang kita makan, tapi ada juga daun singkong.. Hore…”.
Bagaimana Pak
Kasmun tidak menangis melihat dua bocah yang kegirangan hanya karena sekantong
kresek daun singkong, sementara di tempat lain anak-anak seumurnya sering kali
masih merasa kurang dengan banyak hal yang sudah mereka miliki. Bagaimana Pak
Kasmun tidak menangis melihat dua bocah yang gembira hanya karena bisa makan nasi
dengan lauk daun singkong, sementara di tempat lain banyak orang-orang yang
masih mengeluh padahal apa yang bisa ia makan jauh lebih baik dari itu.
*****
Dua bocah itu
anak yatim, ibunya hanya seorang penjual rombengan (penjual baju-baju bekas).
Dan sejak saat itu, setiap pagi, siang dan sore Pak Kasmun membawakan makanan
ke rumah mereka.
Pagi ini, apa
yang anda makan? Apa anda mengeluhkannya?
Ibu, Pandanganku Mencarimu
Anak itu terus saja meronta, merengek menolak diajak ibunya ke rumah pamannya.
“Bu, Amin nggak mau Bu. Amin nggak mau. Amin nggak mau ke rumah
paman.” Katanya sambil terus menangis dan memukul-mukul lengan kiri
ibunya.
“Amin nggak mau Bu, huk…huk…Amin nggak mau tinggal di rumah paman Bu,
Amin mau tinggal sama ibu, huk…huk…huk…” Ia masih terus menangis hingga
menjadi pusat perhatian para penumpang bus lainnya.
Sementara sang ibu hanya diam, pandangannya menatap ke luar jendela
bus, matannya basah dan sedikit memerah. Ia berpura-pura tak perduli
pada anaknya yang baru berusia sembilan tahun itu, padahal hatinya
begitu iba melihat anaknya yang terus saja menangis. Ia juga tak mau
berpisah dengan anaknya, dan tentu saja berat baginya untuk menitipkan
anaknya di rumah adik suaminya yang tempatnya jauh dari tempat
tinggalnya. Namun apa boleh buat, sepertinya tak ada pilihan lain.
Karena baginya kenakalan anak bungsunya ini tak dapat lagi ditoleransi.
Yah, ia berharap perilaku anak bungsunya ini akan berubah setelah
tinggal bersama pamannya yang seorang tentara.
Ibu itu masih terdiam, bibirnya yang tertutup terlihat bergetar
menahan tangis. Ia mencoba sebisa mungkin menguatkan diri, mencoba
menghilangkan rasa iba pada anaknya. Ia ingin anaknya berubah, berubah
menjadi anak yang baik, yang tak lagi melakukan kenakalan-kenakalan yang
merugikan orang lain. Karena sudah terlalu banyak kenakalan yang
dilakukannya, sudah terlalu banyak orang yang dirugikannya. Ia ingat
betul kenakalan terakhir yang dilakukan anak bungsunya ini, saat ia
merusak mainan mobil remote control milik temannya karena tak diijinkan
meminjamnya. Tak hanya itu, ia juga memukul temannya itu sampai
hidungnya berdarah. Dan karena ulah anaknya ini sang ibu harus mengganti
mobil remote control yang telah dirusak anaknya sebesar dua ratus ribu
rupiah serta biaya dokter seratus ribu rupiah. Baginya yang seorang
janda dan hanya bekerja sebagai buruh cuci uang segitu adalah jumlah
yang besar. Apa lagi saat ini ia sedang sangat membutuhkannya untuk
biaya pendaftaran anaknya yang satu lagi ke SMA. Tapi bukan uang yang
membuatnya terpaksa menitipkan anaknya di rumah adik suaminnya. Ia hanya
tak mau anaknya tumbuh menjadi orang yang suka merugikan orang lain.
“Bu…, Amin mau pulang Bu…, Amin mau tinggal sama ibu…huk…huk…huk…”
Tangisan anaknya menyadarkannya dari lamunan, di usapnya air mata yang
tak ia sengaja mengalir di kedua belah pipinya. Sementara beberapa
penumpang bus masih memperhatikannya, entah? Apa yang ada dalam benak
pikiran mereka. Namun tak sedikit pula yang acuh tak acuh, seperti juga
sang sopir yang tetap berkonsentrasi dalam mengemudi tak perduli
sedikitpun dengan permasalahan-permasalahan yang sedang dialami para
penumpangnya. Sehingga bus terus melaju.
Wuzzzz…….
***
Mereka telah sampai ke tempat yang mereka tuju, sebuah rumah berukuran
kurang lebih tuju puluh meter persegi dengan halaman yang luas dan di
pagari tembok setinggi satu setengah meter. Rumah seorang Tentara, duda
dengan satu anak lelaki berusia dua puluh tiga tahunan. Yang sudah
menunggu kedatangan mereka dari tadi di beranda rumahnya.
“Bagaimana perjalanannya, lancar?” Kata sang paman menyambut kedatangan Amin dan ibunya.
“Lancar.” Jawab sang ibu. Sementara amin hanya terdiam, sesenggukkan karena kelelahan menangis.
“Ayo kita masuk dulu!” Sang paman menawarkan dengan ramah, tak
terlihat sedikitpun kalau ia seorang tentara yang hidupnya keras dan
sarat dengan kedisiplinan.
“Nggak perlu, saya langsung pulang saja. Takut kemalaman sampai rumah.” Jawab sang ibu.
“Saya titip Amin, tolong didik ia agar menjadi anak yang rajin.., yang disiplin!” Lanjut sang ibu.
“Oh…, yah sudah terserah Mba saja.” Kata sang paman.
“Ini semua keperluan Amin sudah saya siapkan dalam tas.” Kata sang ibu
sambil menyerahkan tas ransel besar kepada adik suaminya.
“Saya mohon pamit!” Sang ibu menjabat tangan adik suaminya kemudian melangkahkan kaki meninggalkan rumah itu.
Amin tak membiarkan ibunya pergi, ia menggenggam erat-erat bagian
bawah baju ibunya. Ia tak berkata apapun, nafasnya masih
terengah-engah. Kemudian sang ibu melepaskan genggaman jari-jari
anaknya dari bajunya dengan perlahan. Kemudian menggenggam tangan
anaknya dan memandang lekat-lekat anak bungsunya dengan mata
berkaca-kaca seraya berkata,
“Amin, dengarkan ibu! Percayalah ibu akan selalu menyayangi Amin,
makanya Amin harus janji sama ibu, Amin akan jadi anak yang baik..,anak
yang berprestasi. Amin baik-baik tinggal di sini yah! Dengarkan
kata-kata pamanmu. Dan berjanjilah pada ibu, Amin tidak akan kabur dari
sini.., Amin jangan kembali ke rumah, biar ibu atau kakakmu saja yang
menemuimu kesini! Janji yah!”
Amin hanya mampu mengangguk. Ia masih sesenggukkan, berusaha menghentikan tangis.
“Sekarang ibu pulang dulu, Amin jaga diri yah! Jangan nakal!” Sang ibu
memalingkan tubuhnya berjalan meninggalkan rumah itu.
Amin terus saja menatap punggung ibunya yang perlahan menjauhinya dan menghilang dari pandangannya.
“Sudah..,nggak perlu menangis, ayo masuk!” Sang paman dengan ramah
mengajak anak itu masuk. Tangan kanannya yang kekar menepuk-nepuk sayang
bahu kanan Amin.
Tetapi Amin tak memperdulikan ucapan pamannya, ia masih saja berdiri
di beranda rumah pamannya. Pandangannya menatap lurus kearah pintu
pagar, berharap ibunya kembali, membatalkan niatnya dan membawanya
kembali untuk tinggal bersama di rumahnya seperti biasa.
Sang paman memaklumi tingkah keponakannya itu, ia tahu betul apa yang
saat ini sedang dirasakan Amin. Hingga ia pun membiarkan saja apa yang
dilakukan Amin, ia meninggalkan anak itu sendirian di beranda.
Langit tak lagi biru, matahari telah siap kembali ke tempat
peraduaannya, sementara Amin masih berdiri di beranda rumah pamannya
dalam posisi yang sama. Masih menatap lekat-lekat pintu pagar, dan masih
dengan harapan yang sama, berharap ibunya datang untuk menjemputnya.
Pamannya yang sejak tadi memperhatikannya dari ruang tamu merasa iba,
matanya berkaca-kaca, hingga akhirnya ia keluar menemui keponakannya.
“Sudahlah! Ayo masuk! Sudah sore, besok kamu harus sekolah di tempat
yang baru, kamu perlu cukup istirahat!” Sang paman merangkulnya,
mengajaknya masuk kerumah.
***
Ia sedang duduk di atas tempat tidur saat sang paman membuka pintu
kamarnya, kedua tangannya memeluk erat kedua kakinya yang ia tekuk.
Semalaman ia tak tidur, terus memikirkan ibunya.
“Amin, ayo mandi dan kenakkan seragam sekolahmu. Setelah sarapan Paman
akan mengantarmu ke sekolah barumu.” Perintah sang paman.
Ia bergegas menjalankan perintah sang paman karena ia sudah berjanji
pada ibunya untuk mematuhi kata-kata pamannya. Ia mandi, mengenakkan
seragam sekolahnya, kemudian beranjak meninggalkan kamarnya menuju meja
makan untuk sarapan bersama paman dan saudara sepupunya. Setelah itu ia
diantar pamannya dengan sepeda motor ke sekolah barunya.
Ia memasuki kelas barunya di dampingi gurunya, kemudian sang guru
mempersilahkanya untuk memperkenalkan diri di hadapan teman-temannya.
Tapi ia hanya diam, tak berbicara sepatah kata pun. Akhirnya sang
gurulah yang meperkenalkannya kepada teman-temannya,
“Anak-anak, perkenalkan ini teman baru kalian! Namanya Muhammad Amin
Rifa’i, atau biasa dipanggil Amin.” Kata sang guru yang kemudian
mempersilahkan Amin duduk.
Amin duduk di bangku pojok sebelah kanan kelas, matanya terus menatap
keluar jendela. Pikirannya terus saja membayangkan ibunya sampai bel
tanda sekolah berakhir berbunyi. Teman-temannya sibuk membenahi
buku-buku mereka ke dalam tas, sementara Amin.., sejak tadi pagi tak
satu bukupun yang ia keluarkan dari dalam tasnya. Ia berjalan dengan
menunduk meninggalkan kelas. Pamannya sudah menunggu di depan sekolah
untuk menjemputnya. Dalam perjalanan pulang pamanya berkata kepadanya,
“Besok kamu berangat sendiri ke sekolah, paman akan membelikanmu sepeda!”
Ia hanya mengangguk.
Sesampainya di rumah pamannya kembali berkata,
“Ganti pakaianmu kemudian makanlah, setelah itu kamu boleh melakukan
apa saja. Tapi nanti malam kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh!”
Kata pamannya yang mulai menerapkan disiplin.
Seusai makan ia menghabiskan waktu luangnya untuk berdiri di beranda
rumah pamannya. Matanya menatap ke arah pintu pagar, berharap
pandangannya menemukan sosok wanita setengah baya yang datang untuk
menemuinya. Hatinya terus berharap, ia tak pernah putus asa, karena
memang Tuhan tidak menitipkan sifat putus asa pada anak-anak, hanya
orang-orang dewasalah yang suka berputus asa. Dan ketika langit mulai
gelap ia tahu bahwa ibunya tak datang. Ia tak kecewa.
“Mungkin bukan hari ini, mungkin saja besok” Gumamnya dalam hati.
***
Tiga bulan telah berlalu. Tapi Amin benar-benar tak kenal putus asa,
ia tak pernah lelah berdiri di beranda rumah pamannya untuk
menghabiskan waktu luangnya. Pandanganya pun tak pernah lelah mencari
sosok ibunya di depan pintu pagar rumah pamannya. Hari ini hari ulang
tahunnya, ia berharap, hari inilah saatnya. Ia yakin, pasti hari ini
wanita itu datang. Hingga setelah dua jam lebih ia berdiri di beranda ,
pandangannya menemukan yang selama ini ia cari, yah, ibunya. Wanita
setengah baya itu berjalan menghampirinya dengan tersenyum dan mata
berkaca-kaca. Spontan Amin berlari, ingin sekali rasanya ia memeluk
tubuh wanita itu. Kemudian ia menangis dalam pelukan ibunya
sejadi-jadinya.
Senja tiba. Setelah seharian menemani anaknya, sang ibu harus kembali
ke rumahnya. Ia memeluk anaknya erat-erat sebelum beranjak pergi,
bibirnya bergetar, membisikan sesuatu di telinga anaknya,
“Amin…, baik-baik yah di sini. Rajin-rajin belajar, buat ibu bangga.
Amin di sini saja tak perlu kemana-mana! Nanti ibu akan menemuimu lagi,
dan saat itu tiba Amin harus sudah menjadi anak yang berprestasi!
Janji yah!”
Kembali Amin hanya mampu mengangguk, nafasnya terengah-engah menahan tangis.
Sang ibu berjalan meninggalkan ia pergi, berulang kali ia menoleh
melihat anaknya. Sementara Amin juga menatap tubuh ibunya lekat-lekat,
tubuh yang selalu ia rindukan siang dan malam.
Di hari berikutnya Amin masih dengan kebiasaannya berdiri menunggu
ibunya di beranda rumah pamannya. Meskipun ia tahu, bahwa ibunya takan
kembali secepat itu. Tapi ia tak perduli, karena memang hanya itulah
usaha yang bisa ia lakukan untuk bertemu dengan ibunya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dua
tahunpun berlalu. Namun, ibunya tak pernah sekalipun datang lagi
menemuinya. Tapi ia tak putus asa, ia masih selalu setia berdiri
menunggu ibunya di beranda rumah pamannya. Pandangannya masih saja
mencari-cari sosok wanita setengah baya itu, dan ia tak menemukannya.
Akan tetapi pandangannya menemukan sosok anak lelaki yang ia kenal
wajahnya, ia kakaknya. Ia berjalan menghampiri kakaknya, begitu juga
kakaknya, kemudian keduannya berpelukkan.
Amin memeluk kakaknya kuat-kuat, ia sangat rindu kepadanya meskipun
tak sebesar rindunya pada ibunya. Sesaat kemudian ia melepaskan pelukan
kakanya dan bertanya,
“Ibu mana Kak?” Tanyanya sambil menyeka air matanya.
“A….anu… I..ibu tidak bisa datang.” Jawab kakaknya gagap.
“Apa ibu sakit Kak?”
“Tidak., malah ibu titip pesan, katanya kamu harus rajin belajar.”
“Oh…” Ia sedikit kecewa.
Kebetulan hari ini hari minggu, ia bermain seharian bersama kakaknya satu-satunya.
***
Hari ini tepat enam tahun lebih empat bulan sejak ia tinggal di rumah
pamannya. Hari ini ada acara pelepasan siswa-siswa kelas tiga di
SMPnya. Hampir seluruh orang tua siswa hadir dalam acara ini. Seorang
guru muda, tampan, penuh karisma menjadi pembawa acaranya.
“Para Bapak, Para Ibu, dan Anak-anakku sekalian. Acara selanjutnya
adalah penyerahan Piala untuk murid terbaik di sekolah kita ini yang
telah membuat harum nama sekolah ini. Berbagai prestasi telah berhasil
ia raih, di antaranya: ia telah berhasil menjadi juara satu lomba
Matematika tingkat Provinsi, juara satu murid teladan tingkat SMP
sekota”X”, dan ia juga peraih nilai UAS tertinggi pelajaran Matematika.
Bersama kita sambut….! Muhammad Amin Rifa’i.” Kata pembawa acara yang
di sambut dengan tepuk tangan para hadirin.
Amin berjalan menuju panggung. Bapak Kepala sekolah telah berdiri di
atas panggung siap memberikan Piala juara satu lomba Matematika tingkat
provinsi. Saat serah terima, beberapa orang guru memotretnya untuk
didokumentasikan. Kemudian pembawa acara memintanya untuk menyampaikan
beberapa kalimat. Namun ia hanya diam, matanya menatap setiap sudut
kursi pengunjung. Kembali pandangannya mencari sosok ibunya, berharap
sosok wanita setengah baya itu hadir, menatapnya dengan tersenyum,
bangga akan prestasi anaknya. Tapi tak ia temukan keberadaannya di sana.
Yang terlihat hanya sosok paman dan kakaknya yang duduk di barisan
paling belakang.
Suasana hening menemani kebisuannya. Mereka yang hadir menatap wajah Amin lekat-lekat.
“Semua ini,
“Untuk ibuku.” Hanya itulah kata yang Amin ucapkan.
Amin kembali ke tempat duduknya di barisan depan.
Acara kembali berlanjut, pertunjukan demi pertunjukan di tampilkan.
Dan acara berakhir kira-kira pukul satu siang. Para Pengunjung
berhamburan meninggalkan tempat duduknya, begitu juga Amin. Ia berjalan
menuju barisan belakang untuk menemui paman dan kakaknya. Tetapi sang
paman sudah pergi dari tempat itu beberapa menit yang lalu, yang ia
temui hanya kakaknya. Kakaknya memandang Amin dengan perasaan haru,
matanya yang basah terus menatap Amin yang berjalan mendekatinya, ia
begitu bangga dengan prestasi adiknya itu.
“Kamu hebat Min, kakak bangga punya adik sepertimu.” Kata sang kakak kepada adiknya yang sudah berada di hadapannya.
“Ibu mana Kak?” Tanya Amin dengan wajah yang murung.
Seketika tubuh kakaknya terasa lemas mendengar pertanyaan adiknya itu,
entah mengapa? Padahal pertanyaan itu sudah berulang kali ia dengar
dari mulut adiknya. Tapi hari ini pertanyaan itu ia rasakan sangat
berbeda, pertanyaan itu seakan batu besar yang membebani punggungnya.
Hingga perasaan bahagia melihat prestasi adiknya lenyap begitu saja,
menguap entah kemana?.
“Kenapa ibu tak menemuiku Kak? Apa kau tak pernah mengatakan padanya
bahwa anaknya Amin telah menjadi anak yang berprestasi, apa kau tak
katakan bahwa anaknya Amin sekarang anak yang rajin?”
Kakaknya diam mematung, lidahnya terasa kelu untuk ia gerakan.
“Kenapa Kak? Katakan!!! Kenapa Ibu tak menemuiku? Apa ia tak percaya
bahwa anaknya Amin kini tak lagi nakal? Apa ia tak percaya kalau anaknya
Amin kini berprestasi?” Lanjut Amin memelas, mengharap belas kasihan.
“Jika ibu masih tak percaya, bawalah piala ini Kak!!! Tunjukan
padanya! Dan suruh ia menemuiku Kak! Kumohon padamu!!! Suruh ia menemui
Amin anaknya!!! Katakan padanya, anaknya merindukannya!”
Tak ada suara. Hening udara gerah. Semua yang ada di sekitar mereka seakan menghilang.
“Ma..maafkan kakak Min!” Sang kakak menundukan kepala,perasaan
bersalah membuat ia tak mampu menegakkan kepala di hadapan adiknya.
“Maafkan Kakak, selama ini kakak telah membohongimu. Semua janji ibu
yang ku ceritakan padamu hanyalah dusta belaka, karena……..” Sang kakak
ragu melanjutkan ceritanya.
“Karena apa Kak?” Tanya Amin dengan volume suara sepenuhnya.
“Karena….karena…. ibu sudah meninggal enam tahun yang lalu. Semenjak
berpisah denganmu ibu sering murung. Di saat waktu makan ia melamun, dan
saat aku menyadarkannya untuk menyuruhnya segera menghabiskan
makananya, ia malah bertanya padaku: ”Zam, apa di rumah paman, adikmu
Amin makan dengan lahap seperti biasanya?
“Dan saat malam dimana seharusnya ibu beristirahat, ia malah duduk
melamun di bekas tempat tidurmu, dan saat aku menyuruhnya untuk segera
beristirahat, ia malah bertanya: “Zam, apa di rumah paman, adikmu Amin
tidur dengan nyenyak?
“Kemudian aku pernah melihat ibu menangis saat melihat anak-anak
tetangga sedang bermain. Saat kutanya mengapa ibu menangis, ia malah
balik bertanya: “Zam, apa adikmu Amin punya teman di sana, apa pamannya
akan menggendongnya saat ia menangis seperti ibu biasa menggendongnya
saat berusaha menghentikan tangisannya?”
“Lama kelamaan ibu sakit. Dan sebelum meninggal ibu pesan agar kakak
tak menceritakan kematiannya padamu, ia hanya menyuruh jika kamu
menanyakannya bilang saja: “Ibu akan menemuimu jika kamu tak lagi nakal
dan sudah berprestasi.”. Maafkan kakak Min!” Sang kakak berhenti
bercerita, diusapnya kedua pipinya yang basah karena air mata.
Mendengar cerita dari kakaknya Amin merasa aliran-aliran darah dalam
tubuhnya tak mau lagi bergerak. Tubuhnya terasa tak bertenaga.
Sementara semua yang ada di sekitarnya, serasa meninggalkannya,
menghilang entah kemana? membiarkannya sendiri di atas permukaan bumi,
sepi. Ia merasa sangat kecil, kerdil dalam pandangan langit. Perasaan
bangga yang sempat ada yang ingin ia tunjukan kepada ibunya, menguap
bersama harapan-harapannya melihat senyum bahagia ibunya.
“Bu, tahukah kau? Bertahun-tahun pandanganku mencarimu.”
Hinata
"Hinata", setiap orang yang mendengar namanya pasti menebak itu nama orang jepang.
Memang
benar, ia lahir di jepang tapi di besarkan di Indonesia. Ayahnya orang
Indonesia sedangkan ibunya asli orang jepang. Aku mengenalnya saat
hari pertama aku masuk SD. Saat itu di belakang kelasku yang sepi, aku
melihat dua kakak kelasku, entah mereka kelas berapa? Sedang meminta
uang gadis kecil berambut pendek secara paksa. Berlaga jagoan aku
mendekat, kemudian berteriak dengan lantang kepada kedua kakak kelasku,
"Hey", kembalikan uangnya!!!" Kataku yang saat itu sudah berada beberapa meter dari mereka.
Kedua
anak itu terlihat terkejut, dan mengalihkan perhatiannya padaku.
Kemudian mereka mendekatiku sampai jarak antara kami sangat dekat.
Sesaat mereka tersenyum mengejekku, dan tanpa basa-basi seorang dari
mereka melayangkan tinjunya tepat mengenai hidungku. Spontan aku
tersungkur, hidungku berdarah, tenaganya sangat besar. Tak berhenti di
situ, ia kembali melayangkan tinjunya padaku yang masih terbaring di
rumput. Kali ini tepat di bawah mata kiriku hingga meninggalkan bekas,
biru lebam. Kemudian mereka meninggalkanku begitu saja.
Gadis
kecil itu kemudian mendekatiku yang masih terbaring di atas rumput, ia
menangis melihat keadaanku. Dari tangisanya, aku yakin kalau ia anak
yang manja. Ia terus menangis hingga aku tak tega melihatnya. Akhirnya
aku berusaha menghiburnya dengan melakukan tingkah-tingkah lucu seperti
mengerutkan dahi, menggerak-gerakan alis, memoncongkan mulut, aku
berusaha menciptakan ekspresi lucu agar ia tertawa. Dan saat ia
tertawa, ia terlihat sangat… cantik. Kedua matanya yang sipit
terlihat seperti bulan sabit, bibir merahnya yang mengembang terlihat
seperti merah mawar yang baru merekah, terlihat sangat serasi dengan
hidung kecilnya yang mancung dan kulitnya yang putih merona. Sungguh,
maha sempurna Dzat yang telah mengukir wajahnya.
Melihat ia tertawa akupun ikut tertawa. Hingga sesaat kemudian suasana hening saat kami menghentikan tawa.
Dengan pipi yang memerah gadis kecil itu menatapku, kemudian mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan,
"Hinata. Hinata Hinamori." Ia memperkenalkan diri.
Aku meraih tangannya dan memperkenalkan diriku, "Aku Ilyas. Muhammad Ilyas." Kataku.
Sejak
saat itu kami jadi teman dekat, atau lebih tepat di sebut "sahabat".
Hari-hari kami lalui bersama dengan penuh kegembiraan, berlari-lari di
padang rumput di belakang sekolah, bermain bola di kubangan lumpur
dalam siraman hujan, bermain layang-layang di bawah terik mentari atau
bermain boneka, masak-masakan ataupun permainan lainnya. Apapun yang
aku lakukan bersamanya terasa sangat menyenangkan.
Persahabatan
kami terus berlanjaut sampai kami SMP. Yah, kami sekolah di SMP yang
sama, meskipun kelas yang berbeda. Tapi Kebersamaan kami tak sesering
dulu. Karena kami beda kelas? Bukan. Karena Hinata kini bukan lagi
Hinata kecil yang dulu, bentuk tubuhnya sudah mulai berubah, dadanya
yang mulai membesar, pinggulnya yang mulai melebar dan perubahan bagian
tubuhnya yang lain membuatku merasa risih berlama-lama bersamanya. Tak
hanya itu, rambutnya yang lurus dan panjang, penampilanya yang selalu
menarik, dan caranya tersenyum padaku sering kali membuatku salah
tingkah di depannya. Aku hanya takut cinta dan kasih sayangku kepadanya
sebagai sahabat akan berubah menjadi nafsu birahi yang tak terkendali.
Semakin
hari, Hinata semakin tumbuh menjadi gadis cantik yang mempesona. Dan
hal itu membuatku terpaksa semakin menjauh darinya. Menjauh bukan
karena aku membencinya, tetapi menjauh karena aku menghargainya
sebagaimana seorang muslim menghargai seorang wanita. Aku tak mau
menjadikan ia sebagai obyek kemaksiatan mataku, obyek pikiran kotorku
dengan dalih persahabatan. Bagiku sepert ini lebih baik. Dan, jujur hal
ini tak pernah mudah, berat bagiku.
Tak
selalu bersama Hinata membuat tiga tahun di SMP terasa lama bagiku.
Tapi hal itu tak berlaku bagi siswa yang lain, karena mereka mempunyai
cerita sendiri-sendiri. Yah, bersama atau tak bersama Hinata waktu
terus berjalan membawaku sampai pada hari pengumuman kelulusan.
Hari
itu tak banyak siswa yang berangkat sekolah, sebagian besar dari
mereka duduk manis di rumah menunggu orang tua mereka kembali membawa
selembar kertas yang mampu membuat mereka merasa sangat bahagia karena
dinyatakan lulus, namun juga mampu membuat membuat mereka berduka
karena dinyatakan tidak lulus. Hari itu aku berangkat seperti biasanya.
Aku tak masuk ke kelas karena kelas kami di penuhi para orang tua siswa
yang sedang berdebar-debar hatinya menunggu hasil kerja keras
anak-anaknya selama tiga tahun. Aku duduk menyendiri di bangku taman
depan sekolah, memperhatikan wajah orang tua teman-temanku yang lalu
lalang lewat di depanku. Tiba-tiba saja mataku menemukan sosok Hinata
di antara mereka. Ia berjalan dengan santai menuju ke luar, seperti
biasa pakaiannya sangat rapi dan modis. Ia berjalan dengan tegap
seperti petugas pengibar bendera, kakinya yang panjang silang menyilang
tangkas tak kalah indahnya dengan para supermodel yang melangkah di
atas catwalk. Rambut lurusnya yang tertiup angin membuat ia semakin
mempesona. Sesaat aku merasa setetes embun mengalir membasahi hatiku
hingga aku merasakan damai yang tak terlukiskan. Dan saat aku menatap
wajah cantiknya tiba-tiba saja ia menengok ke arahku dengan senyum yang
sangat menawan. Mata kami bertemu, saling menatap, tetapi dengan cepat
aku menunduk. "Astaghfirullohal"adzim." .Aku beristighfar dalam hati,
berusaha menenangkan detak jantungku yang saat itu berdetak sangat
kencang dan tak beraturan.
Sejak
saat itu Hinata menghilang dari kehidupanku, aku tak pernah tahu
kemana ia pergi. Kini aku hanya mampu mengenang saat-saat indah yang
kulalui bersamanya. Sering aku mencoba melupakanya, namun senyum
manisnya tak bosan-bosan hadir dalam khayalku. Terkadang aku tersenyum
mengingatnya, tetapi kemudian menangis saat sadar ia tak lagi di
sisiku. Hingga aku sadar betapa aku merindukannya dan betapa aku
mencintainya.
***
Delapan tahun berlalu begitu lama tanpanya.
Saat
itu hari Minggu, aku sendirian di rumah. Bapak, ibu dan Iqlina adikku
sedang pergi ke rumah kakek. Sebenarnya aku ingin sekali ikut, tapi
jika aku ikut pergi siapa yang akan menjaga rumah. Mau tidak mau, yah,
terpaksa aku jaga rumah.
Aku
duduk di kursi di ruang tamu. Membaca sebuah novel dengan judul
"Pudarnya Pesona Cleopatra" karya Habiburrahman El Shirazy. Baru
membaca beberapa lembar, tiba-tiba aku mendengar seseorang mengetuk
pintu di iringi ucapan salam. Suara anak perempuan. Aku bangun dari
tempat dudukku, meletakan buku yang sedang kubaca di atas meja dan
berjalan menuju pintu. Tangan kananku menggengam pegangan pintu,
kemudian aku membuka pintu dengan perlahan. Dan saat pintu terbuka
kulihat gadis cantik berjilbab biru tepat di depanku. Spontan jantungku
berdetak lebih cepat dari biasanya sampai-sampai otot-otot yang
mengikatnya seakan tak kuat lagi menahanya. Aku merasa seperti telah
membuka pintu surga dan menjumpai bidadari yang menghuninya.
"Astaghfirullohal'adzim"
Astaghfirullohal'adzim." Aku beristighfar dalam hati berulang kali
berusaha menenangkan diri dan menguasai keadaan.
"Maaf Mbak, Iqlinanya sedang pergi." Kataku sok tau, mengira ia teman adikku.
"Ilyas." Gadis itu menyebut namaku.
Kembali
kurasakan detak jantung yang tak beraturan. Di tambah dengan
kebingungan, bagaimana gadis cantik ini mengenalku? Apakah adikku
pernah bercerita tentangku padanya?
"Maaf Mbak siapa yah?" Aku memberanikan diri bertanya.
"Wah, sombong kamu, masa lupa sih? Ini aku Hinata." Jawab gadis itu.
Mendengar
jawabanya hatiku seakan meledak, mengeluarkan serpihan-serpihan kuntum
bunga dari dalamnya dan berhamburan menghujaniku.
"Hinata?" Tanyaku yang masih ragu.
"Iya Hinata temanmu, lupa yah? Masa nggak di suruh masuk sih."Ucapnya dengan tersenyum.
Aku
berjalan menuju kursi, hinata mengikuti di belakangku, dan kami pun
duduk. Kami duduk berhadapan. Kupandang wajah gadis itu sesaat dan aku
yakin ia benar-benar Hinata, gadis jepang teman kecilku.
"Ada apa denganmu?" Tanyaku yang bingung melihat perubahan yang terjadi pada dirinya.
"Memang kenapa? Ada yang salah" Ia balik bertanya.
"Ya.., tidak sih. Tapi, tentu ada alasannya dong dengan perubahanmu?"
Tak ada suara, hening.
Hingga akhirnya ia bersuara.
"Alasannya? Karena..." Katanya yang sedikit ragu untuk melanjutkannya.
Kembali tak ada suara. Kulihat pipinya memerah menahan malu, sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya
"Karena..., Ka..rena.., Karna aku mencintaimu." Lanjutnya terbata, kemudian ia menundukan kepala.
Aku terperanjat. Entah rasa seperti apa yang saat itu aku rasakan, sungguh aku tak mampu menjelaskannya.
"apa hubungannya coba?" Aku yang sedikit gugup.
"Apa
kau tau, dari dulu aku mencintaimu. Aku selalu berusaha berpenampilan
menarik di depanmu, berharap kamu mau memujiku. Sembilan tahun, tak
pernah sekalipun kamu memujiku dengan mengatakan "Hari ini kamu cantik
sekali", "Bajumu bagus" atau sekedar mengatakan "Hari ini kamu terlihat
berbeda". Tak pernah..,tak pernah sekalipun. "
Tapi
saat melihat Annisa, satu-satunya siswi berjilbab dikelasku yang saat
itu membacakan Al qur'an dalam acara peringatan Isro mi'roj di sekolah,
kamu langsung memujinya. Tak hanya keindahan suaranya yang, tapi kamu
juga memuji kecantikannya hanya karena ia memakai jilbab. Dan tahukah
kamu betapa irinya aku saat itu. Sebenarnya sejak saat itu juga aku
ingin sekali memakai jilbab, berharap kamu memujiku saat melihatnya.
Tapi aku malu dan aku ragu.
"Setelah
lulus SMP aku dan keluargaku pindah ke Semarang saat itulah aku mulai
mengenakan jilbab. Aku tak malu karena aku baru di situ, tak ada orang
yang mengenalku sebelumnya. Tapi aku masih merasa kurang karena aku tak
bisa membaca Al qur'an seperti Annisa. Hingga kuputuskan untuk
melanjutkan sekolah di SMA yang berbasis Islam. Akhirnya aku bersekolah
di salah satu SMA Islam Terpadu yang ada di kota itu. Disana aku
mengenal Bu Afifah, dari beliaulah aku belajar Al qur'an. Dan dari
beliau pula aku tau tentang Islam lebih dalam, hingga aku merubah
niatku memakai jilbab, dari sekedar mengharap pujianmu menjadi niat
yang ikhlas untuk menjadi muslimah yang lebih baik.
"Dan
setelah lulus SMA aku melanjutkan kuliah di STAIN di Surakarta
fakultas Tarbiyah, sama seperti Bu Afifah dulu. Yah, belialu lulusan
STAIN Surakarta. Aku ingin tau tentang Islam lebih jauh lagi. Mungkin
itulah kisah hidupku saat berpisah darimu."Lanjutnya panjang lebar
Dari
tadi aku diam menyimak ceritanya. Mendengar ceritanya, kekagumanku
semakin bertambah padanya. Hingga akhirnya, akupun memberanikan diri
mengungkapkan perasaanku kepadanya.
Tiga
bulan kemudian kami menikah. Persahabatan kami berlanjut kembali dalam
rumah tangga kami. Dan tahukah kamu betapa bahagianya aku, karena mata
ini tak perlu lagi diam-diam menatap kecantikannya tapi aku bisa
menatap wajah cantiknya sepuasku. Tangannya kini halal untuk ku genggam
erat-erat, dan tangganku halal untuk membelai rambut indahnya.
Terkadang
aku masih tak percaya, bahwa wanita yang menjadi jodohku adalah Hinata
gadis jepang teman kecilku. Sungguh indah rencana-Mu, ya Robb...
Hinata, Watashi wa anata o aishite.
Karena Do'a Sahabat
“Mengapa kau suka sekali menatap bintang?” Tanya Somad kepada Badrun yang masih menengadahkan kepalanya ke langit.
“Karena setiap kali aku melihat bintang harapan itu muncul dalam benak pikiranku.” Jawab Badrun yang masih asik menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit.
“Harapan?” Somad penasaran.
“Yah, harapan. Harapan akan adanya sebuah masa depan yang membahagiaan. Harapan akan adanya kemajuan, harapan akan adanya peradaban yang lebih baik, harapan menjadikan manusia-manusia yang berkualitas.” Lanjut Badrun penuh improvisasi.
“Kau ini ngomong apa sih Drun? Aku nggak ngerti? Ngomong kau itu Loh…., ribet banget kayaknya.” Kata Somad sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan tangan kanannya,kebingungan.
“He…he…he… biar kelihatan keren aja. Maksudku begini, setiap aku melihat bintang muncul sebersit harapan dalam benak pikiranku untuk menjadikan desa kita menjadi desa yang lebih baik. Lebih baik di bidang kesehatan, pendidikan, maupun bidang-bidang yang lainnya.” Badrun mencoba menjelaskan.
“Oh…begitu. Kenapa cuma harapan? Kenapa nggak kita jadikan saja semua itu menjadi kenyataan?”
“Maksudmu?”
“Bapakku pernah bilang padaku:”Nak, jika engkau mempunyai sebuah harapan maka jadikanlah harapan itu doa. Dan teruslah memanjatkan doamu itu, karena percayalah setiap doa yang telah kita usahakan dengan maksimal pasti akan dikabulkan. Akan tetapi tak semua doa dikabulkan presis seperti yang kita minta.” Kemudian aku bertanya pada bapakku: “Apa maksud Bapak?” Kemudian beliau menjelaskan Bahwa doa itu dikabulkan dalam bentuk tiga macam:
-Yang pertama, doa itu dikabulkan presis sperti apa yang kita minta. Contoh: Kita berdoa agar bisa mempunyai rumah kemudian Alloh mengabulkannya dengan menjadikan kita mampu membuat rumah.
-Yang kedua, doa kita dikabulkan tidak seperti apa yang kita minta tetapi Alloh mengabulkannya dengan hal lain yang sama manfaatnya. Contoh: Kita berdoa agar bisa mempunyai rumah, tapi ternyata seumur hidup kita tak mampu membuat rumah, kita hanya mampu mengontrak rumah. Secara tidak lansung kita bisa merasakan manfaat sebuah rumah meskipun kita tidak memilikinya.
-Kemudian yang ketiga, doa itu tidak dikabulkan di dunia tetapi Alloh memberi ganti yang lebih baik di Akhirat kelak.” Sekarang kau tahu kan maksudku?” Jelas Somad panjang lebar.
“Maksudmu kita jadikan harapan tentang adanya peradaban yang lebih baik di desa kita ini menjadi doa. Kemudian berusaha semaksimal mungkin mewujudkanya?” Tanya Badrun.
“Tepat sekali.” Jawab Somad santai.
“Caranya?”
“Apa kau tahu di sebrang laut sana ada sebuah tempat dimana kita bisa mempelajari berbagai macam ilmu. Kita pergi saja kesana untuk menuntut ilmu sebanyak mungkin, kemudian setelah kita berhasil kita kembali lagi ke desa ini dan mengajarkan apa yang kita ketahui di desa ini.” Somad mencoba memberi solusi.
“Apa kamu yakin kita mampu?”
“Mungkin kita tak mampu, tapi dengan pertolongan Alloh kita mampu. Percayalah!!!”
“Baiklah, aku percaya.”
Kemudian mereka menyusun rencana, rencana untuk membawa harapan menuju kenyataan.
_‘REVOLUSIONER SEJATI’_ kata itu sangat pantas mereka sandang.
****
Hari yang ditentukan tiba.
Pagi itu matahari bersembunyi malu di balik bayang-bayang gunung, yang terlihat hanyalah serpihan-serpihan cahaya jingganya. Kawanan burung Bangau terlihat rapat dalam barisan, berduyun-duyun mencari,mengambil jatah rizki yang telah disediakan oleh Tuhan. Sementara di atas luasnya permukaan Samudra terlihat dua bocah tangguh mendayung perahu.
Perlahan tetapi pasti, ayunan-ayunan lengannya seakan memberi makna sebuah perjuangan yang tak mudah. Mendayung.., terus mendayung, hingga saat matahari mulai naik, terlihat butiran butiran keringat di pelipis dan di permukaan kulit tangan kekar mereka. Tapi harapan membuat mereka menjadi kuat, tangguh dan pantang menyerah.
Tak terasa senja telah tiba, sementara tempat yang hendak mereka tuju masih separo perjalanan lagi. Akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah pulau tak berpenghuni yang terletak di tengah-tengah antara tempat mereka berasal dan tempat yang mereka tuju. Mereka turun dari perahu, mengangkat sebagian bekal makanan yang mereka bawa ke daratan pulau itu. Beristirahat menghilangkan rasa lelah dan menyantap bekal makanan yang mereka bawa. Hingga akhirnya mereka ketiduran. Dan saat mereka terbangun, mereka terkejut, cemas karena perahu mereka tak ada di tempatnya. Mereka terdampar.
Seminggu telah berlalu, bekal makanan yang ada tak lagi tersisa. Sementara di tempat mereka terdampar tak ada buah-buahan, tak ada binatang buruan dan tak ada bahan makanan lainya. Mereka hanya mengisi perut mereka dengan air. Tiga hari kemudian Somad tak lagi mampu menahan rasa lapar, hingga ia berkata kepada sahabatnya:
“Hai Badrun sahabatku, sesungguhnya aku takut jikalau rasa lapar ini membuat buta mata hatiku sehingga aku tega membunuh dan menyantap dagingmu. Atau kita mungkin akan bertarung memperebutkan makanan jika suatu saat nanti kita menemukannya. Bagaimana jika mulai saat ini kita berpisah? Silahkan kau pilih!!! Bagian barat pulau ini yang lebih dekat dengan tempat yang kita tuju atau bagian timur pulau ini yang lebih dekat dengan tempat kita berasal!!”
“Jika itu maumu baiklah, aku pilih bagian timur pulau ini.” Pilih Badrun.
Merekapun berpisah.
Saat melangkahkan kaki yang pertama Badrun berdoa semoga jalan yang dipilihnya adalah jalan yang benar. Kemudian ia terus melangkah, ke timur.., terus ke timur. Hingga saat malam tiba ia merasa sangat kedinginan, dan ia berdoa, karena ia yakin dengan doa hal yang tak mungkin bisa terjadi, sesuatu yang sulit bisa menjadi mudah dan yang tak ada bisa menjadi ada. Ia sangat percaya dengan kekuatan doa, hingga ia tak pernah berputus asa dalam berdoa seperti Zakariya yang tak pernah berputus asa, berdoa agar dirinya diberikan keturunan yang baik yang dapat meneruskan perjuanganya. Saat itu Badrun berdoa:
“Ya Alloh, sungguh kulitku tak lagi mampu menahan rasa dingin. Tunjukanlah aku tempat yang dapat membuatku terlindung dari rasa dingin ini!”
Tak jauh dari tempat ia berdoa, ia menemukan sebuah pohon besar. Di bawah pohon besar itulah ia berlindung dan beristirahat dengan membangun bifak(gubug kecil yang terbuat dari dedaunan). Dan saat pagi tiba ia kembali meneruskan perjalanan. Baru beberapa meter ia melangkahkan kakinya tiba-tiba perutnya terasa melilit tak tertahankan, hingga ia kembali berdoa:
“Ya Alloh, limpahkanlah rizki-Mu padaku! Tunjukkanlah aku pada tempat yang dipenuhi dengan makanan!”
Kembali ia melangkahkan kakinya, ke timur.., terus ke timur. Dan tiba-tiba ia menemukan sebuah tempat yang dipenuhi dengan buah-buahan, binatang buruan dan jenis makanan lainnya. Tiga hari ia menetap di tempat tersebut, kemudian ia kembali meneruskan perjalanan dengan membawa bekal makanan sebanyak mungkin. Kali ini ia mengawali langkahnya dengan berdoa:
“Ya Alloh, Tunjukanlah aku jalan kembali! Biarkanlah aku hidup seperti manusia lainya, bertempat tinggal dan bermasyarakat!”
Ke timur.., dan terus ke timur.
Semak belukar, tanah berbatu, tanjakan dan turunan telah ia lewati. Akhirnya ia sampai di tepi pulau itu. “Subhanalloh” Ternyata perahu mereka yang hilang ada tepat di depannya. Ia sangat gembira. Segera ia menaikinya dan mendayungnya ke arah timur terapung di atas luasnya samudra. Tetapi, tiba-tiba saja ia menghentikan perahunya saat ia mendengar suara dari langit.
“Hai Badrun, kenapa kau tinggalkan Somad, bukankah ia sahabatmu?” Suara dari langit.
“Kenapa aku harus membawanya bersamaku, bukankah apa yang aku dapatkan semenjak aku berpisah dengannya adalah dari dikabulkannya doa-doaku?” Kata Badrun.
“Engkau salah, apa yang kau dapat selama ini adalah dari dikabulkannya doa Somad, sahabatmu. Apa kau tahu, bahwa saat pertama kali melangkahkan kaki saat berpisah denganmu ia berdoa: “Ya Alloh, lindungilah Badrun sahabatku! Dan tunjukkanlah ia jalan yang benar!” Dan saat ia kedinginan di malam hari ia berdoa: “ Ya Alloh, jangan biarkan Badrun sahabatku kedinginan seperti apa yang aku rasakan” Kemudian saat ia kelaparan ia berdoa: “Ya Alloh, tak apa aku kelaparan di sini, tapi kumohon pada-Mu, jangan biarkan Badrun sahabatku kelaparan di sana.” Ia terus saja mengingatmu dan terus mendoakanmu, tapi mengapa engkau meninggalkannya?” Suara dari langit.
“Astaghfirulloh.., Astaghfirulloh.., Astaghfirullohal'adzim…” Tubuh Badrun bergetar, ia menangis, persaan bersalah membebani punggungnya, hingga seluruh tubuhnya bergetar tak mampu menahannya.
Kemudian ia kembali ke pulau itu hendak menjemput sahabatnya. Tapi terlambat, sahabatnya kini tak lebih dari sekedar tubuh yang tak bernyawa, tergeletak membatu di atas tanah. Kembali ia menangis.., menyesal.., ia berteriak histeris. Tapi percuma sekeras apapun ia berteriak,nyawa sahabatnya tak akan mendengar, dan tak akan kembali. Tak ada pilihan lain kecuali menguburkan mayat sahabatnya dan kembali meneruskan perjalanan mewujudkan harapan-harapan mereka berdua.
“SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG MU’MIN ITU BERSAUDARA,……” (QS 49:10)
”TIDAKLAH BERIMAN SEORANG DI ANTARA KAMU SEKALIAN SEBELUM IA MENCINTAI SAUDARANYA SEBAGAIMANA IA MENCINTAI DIRINYA SENDIRI.” (HR. IMAM BUKHARI)




