Posted by : Um Pria Senin, 29 April 2013

“Ibu tak setuju kamu pergi ke Pesta itu, itu Pestanya orang-orang kaya Nak..” nasehat ibunya
“Aku akan pergi ke Pesta itu Bu, karena Aku diundang,” katanya. “Dan aku diundang karena Randi temanku.”
“Oh ya? Temanmu? Kamu terlalu banyak berkhayal.!!” ibunya menghela nafas.”Dengarkan Ibu, Randi bukan temanmu, ia anak majikan ibumu. Sadar Rustam, kamu ini cuma anak pembantu, apa pantas kamu datang ke Pesta itu???”
Rustam memejamkan mata erat-erat, tapi ia tidak menangis. Tiba-tiba ia berteriak, “Diamlah! Tahu apa Ibu tentang  persahabatan!!”
“Aku akan tetap pergi ke pesta itu karena pesta ulang tahun itu akan menjadi pesta ulang tahun paling indah di seluruh dunia. Randi yang berkata seperti itu kepadaku. Nanti akan ada pesulap yang membawa ular yang sangat besar.” Katanya memaksa.
“Pergilah kau dengan kepercayaan akan semua omong kosong itu!!!” ibunya putus asa menasehati.
Sakit hati Rustam mendengar perkataan ibunya. Ia berfikir, tidaklah adil jika ibunya menuduh orang lain pembohong hanya karena orang itu kaya. Ia juga berfikir, akankah ibunya berhenti mencintainya jika suatu hari nanti ia menjadi orang kaya.

*****

Bu Melda, ibunya Randi tampak memperhatikan penampilan Rustam. Begitu melihat Rustam datang, ia berkata, “Betapa tampannya kamu har ini, Rustam.”
Rustam semakin bangga akan penampilannya. Ia berjalan memasuki ruang pesta dengan langkah-langkah pasti. Disapanya Randi dan ditanyakannya perihal ular itu. Randi segera menarik tangan Rustam agar mendekat, dan ia berbisik, “Ular itu ada di dapur, jangan beritahu siapapun. Ini akan menjadi sebuah kejutan.”
Rustam memasuki dapur, ia ingin membuktikan kebenaran perihal ular itu dan ular itu benar-benar ada. Rustam satu-satunya anak yang diizinkan ke dapur. Bu Melda telah mengatakan, “Rustam saja, yang lain tidak. Mereka terlalu berisik dan ceroboh, mungkin sekali mereka nanti akan memecahkan sesuatu jika diizinkan masuk dapur.”
“Apakah kamu yakin kamu bisa membuatkan sirup sari jeruk untuk semua undangan yang hadir??” tanya bu Melda.
“tentu saja bisa, saya telah terbisaa melakukannya” jawab Rustam.
“Kamu memang hebat”
Rustam tersenyum bangga.
“Apa kamu juga bisa membantu Ibu membagikan sirup dan kue-kue ini kepada tamu undangan??”
“Tentu saja bisa, saya akan melakukannya dengan sangat hati-hati, tak akan ada sirup ataupun kue yang akan tumpah atau terjatuh.”
“Kamu benar-benar hebat Rustam, anak lain mana mungkin bisa.”
Rustam kembali tersenyum, semakin bangga dengan dirinya.

*****

Rustam  memasuki ruang pesta, beberapa anak berebut meminta minum dan kue kepadanya, mereka berteriak memangilnya, “Saya, saya, saya minta!!”. Rustam merasa dirinya seperti raja yang sedang membagi-bagikan makanan kepada rakyatnya. Untuk anak-anak yang baik padanya, ia berikan potongan kue yang besar, sementara untuk bocah gendut yang mengejeknya saat bertemu di halaman rumah tadi, ia berikan potongan yang paling tipis.
Semua undangan tampak gembira dan menikmati jalannya acara. Hampir dalam setiap perlombaan di acara tersebut Rustam menjadi pemenangnya. Dari lomba lari sampai lomba tebak-tebakkan.
Tibalah acara bersama si tukang sulap, acara yang paling dinanti oleh Rustam. Pesulap itu tinggi, tampan, mengenakan pakaian serba hitam. Ia benar-benar pesulap sungguhan, ia dapat melepaskan simpul pada sapu tangannya dengan meniupnya, dan membuat rantai yang tak berujung. Ia dapat menebak kartu apa yang akan ditarik keluar dari kotaknya. Dan permainan sulap yang terakhir  adalah permainan sulap yang sangat menakjubkan. Seorang anak harus mengangkat ular besar ditangannya kemudian si tukang sulap akan menutupnya dengan kain hitam dan akan membuatnya menghilang.
Rustam berfikir, ternyata benar sepertinya pesta ini akan menjandi pesta paling menyenangkan di seluruh dunia.
Tukang sulap itu menyuruh seorang anak lelaki kecil yang gemuk. Tetapi jangankan mengankat ular itu, memegangnya saja ia tidak berani.
“Pengecut.” Lirih si tukang sulap.
Si tukang sulap melihat berkeliling seolah mencari lalat, ia memandang semua wajah satu per satu. Rustam merasakan jantungya berdebar-debar.
“Kamu yang disana.” Situkang sulap menunjuk ke arah Rustam.
Semua wajah menatap ke arah Rustam.
Rustam sama sekali tak merasa takut. Tidak pada saat ia menjunjung ular itu, maupun pada saat tukang sulap membuat ular itu menghilang; bahkan tidak juga ketika tukang sulap membaca mantera dan ular itu muncul kembali. Anak-anak bertepuk tangan dengan riuh. Dan sebelum Rustam kembali ke tempat duduknya, tukang sulap itu berkata, “terima kasih banyak, bocah pemberani.”
Rustam begitu gembira dengan pujian tersebut, ia tak pernah merasa segembira ini selama hidupnya.
Pesta berakhir. Tak lama kemudian ibu Rustam datang untuk menjemputnya. Begitu juga dengan orang tua anak-anak yang lain. Bu Melda menyuruh mereka berdua, Rustam dan Ibunya menunggu di depan pintu, sementara anak-anak yang lain berbaris didampingi orang tua masing-masing untuk menerima hadiah yang dibagikan oleh Ibu Melda. Untuk setiap anak laki-laki yang hendak meninggalkan pesta bu Melda menghadiahkan yoyo yang ia ambil dari tas besar berwarna hijau. Sedangkan untuk setiap anak perempuan bu Melda menghadiahkan sebuah gelang bercorak bunga-bunga yang ia ambil dari tas besar yang satunya yang berwarna biru. Memperhatikan hal tersebut, Rustam berfikir, apakah ia juga akan mendapatkan yoyo seperti anak laki-laki yang lain, atau mungkin sesuatu yang lebih spesial dari yoyo atau gelang, karena hari ini, “Akulah hadirin yang bersikap paling baik di pesta itu”.
Semua anak dan orang tuanya telah meninggalkan pesta, tinggal Rustam dan ibunya yang dari tadi masih menunggu di depan pintu. Bu Melda mendatanginya dengan senyum lebar. Rustam merasa senang karenanya. Bu Melda memandanginya, lalu beralih kepada ibunya dan kemudian mengucapkan sesuatu yang membuat Rustam sangat bangga, “Anakmu benar-benar mengagumkan.”
Seketika itu juga, Rustam berfikir bahwa bu Melda akan memberinya hadiah yang sangat istimewa. Bu Melda meletakan kedua tas besar yang berisi yoyo dan gelang. Ia mengambil sesuatu bukan dari kedua tas besar itu, tapi dari sebuah tas kulit kecil berwarna kecoklatan.
“Ternyata benar, bu Melda tidak akan memberiku yoyo ataupun gelang, karena ia akan memberiku sebuah hadiah yang ia ambil dari tas yang berbeda, hem.. kira-kira apa yah?? Aku yakin pasti sesuatu yang spesial.” fikir Rustam, gembira.
Ternyata apa yang dikeluarkan bu Melda dari tas kulitnya, selembar uang kertas berwarna biru.
“Kamu sungguh-sungguh membutuhkan ini,” katanya sambil memberikan uang kertas itu kepada ibunda Rustam. “Terima kasih atas semua bantuanmu, Nak.” Lanjutnya sambil menatap Rustam dengan senyum lebar.
Rustam merasa kedua tangannya membeku, menempel rapat pada tubuhnya, dan kemudian ia memperhatikan tangan ibunya yang sedang menerima pemberian Ibu Melda. Ia menempelkan tubuhnya pada tubuh ibunya, sementara matanya menatap dingin ke arah bu Melda, seolah-olah hendak menelanjanginya kemudian mencabik-cabik tubuhnya.

*****

“Bagaimana Rustam, apa kau gembira hari ini ?” Tanya Ibunya di perjalanan pulang.
Sebenarnya semenjak di pesta tadi ia ingin bercerita pada ibunya, bahwa ular besar itu bukan omong kosong, dan pesta tadi benar-benar pesta yang paling indah di seluruh dunia. Ia juga ingin menceritakan bahwa di pesta tadi ia adalah anak terhebat yang paling bahagia. Tapi selembar uang kertas tadi merusak semua rangkaian kalimat yang telah ia karang untuk ia ceritakan kepada ibunya. Dan ia menjawab pertanyaan ibunya dengan kata, “Aku lelah, bu.”

*****

Hahahahahah Rustam…Rustam… tentu saja Kau lelah, karena hari ini kau bekerja, bukan berpesta. Sebanyak apapun “HAL” hebat yang kau lakukan hari ini, tak akan mengubah kedudukanmu sebagai anak seorang “PEMBANTU”. Benar, di hadapan Tuhan semua manusia “SAMA”, tapi “TAK AKAN PERNAH SAMA” dihadapan sesama manusia.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Dari Pada Bengong - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -