Download Video di Youtube

Um Pria, Video di Youtube bisa di Download?
#bisa.
 Yang paling sering saya gunakan dengan menggunakan IDM, begini caranya :
Cara download Video Youtube Lewat Internet Download Manager

Langkah - langkah:

Pertama Anda harus punya Software Internet Download Manager, jika belum punya anda bisa mendownloadnya (file yang di download sekitar 4,40 mb), setelah proses download selesai langkah berikutnya anda harus menginstall IDM di komputer anda caranya sebagai berikut :
  • Buka file installasi IDM yang baru saja anda download
  • Berikutnya anda akan dibawa ke proses installasi Klik "Next" untuk melanjutkan
  • lalu anda akan di bawa pada window "ketentuan dalam menggunakan IDM, Baca dengan seksama dan jika anda setuju dan Ingin melanjutkan klik "next"




  •  jika ingin mengubah lokasi instalasi klik browse, namun saya sarankan lokasi penyimpanan ini tidak usah dirubah, Klik next untuk melanjutkan 




  • klik Next lagi
  • Untuk memulai Proses installasi klik Next
  • tunggu hingga proses installasi idm selesai
  • klik Finish
  • Matikan lalu hidupkan kembali komputer anda
Sekarang komputer anda sudah terpasang idm kini anda bisa mendownload video di youtube dengan mudah, berikut ini langkah2 mendownload video di youtube menggunakan Idm :


  • Gunakan Hanya Web Browser "Mozilla Firefox"
  • Buka youtube dengan mengunjungi Youtube.com
  • Buka video yang ingin anda Download
  • Tunggu beberapa saat hingga tombol download muncul
  • Klik tombol download yang ada pada bagian atas layar (kadang juga bisa berada di bagian bawah)
  • Pilih format video yang akan di download, jika anda menginginkan kualitas video yang terbaik pilih format Fly, tapi jika anda ingin video ini bisa di putar pada perangkat hand phone pilih format 3gp




  • Tunggu hingga proses download selesai


catatan :



  1. cara ini akan berhasil jika anda menggunakan mozilla firefox sebagai web browser, kalu menggunakan web browser lain kadang berhasil kadang tidak
  2. cara ini adalah cara yang paling saya sukai, karena dengan idm proses download menjadi lebih cepat dan bisa di jeda
  3. software idm yang anda download hanya versi trial, artinya versi ini punya masa berlaku dan masa berlaku yang dimiliki internet download manager adalah 30 hari, setelah 30 hari berlalu software idm tidak akan bisa digunakan lagi kecuali anda mempunyai nomor serialnya dan nomor serial ini bisa anda dapat dengan cara membeli di situs resmi internet download manager, tapi sekarang ini banyak orang yang berhasil mencurangi nomor serial idm dengan crack / patch, dengan itu mereka bisa menggunakan idm selamanya tanpa harus membeli nomor serial, tapi karena hal tersebut adalah sutu kecurangan yang bisa merugikan pihak lain saya belum mau membahas mengenai cara crack idm
Cara yang lain dengan memanfaatkan situs online downloader. Dan ternyata situs-situs ini bukan hanya bisa digunakan untuk mendownload video youtube loh, melainkan untuk download video di situs mana saja, yang penting tersedia videonya, mantap kan ?. Ini merupakan cara paling mudah untuk download video youtube dan tanpa tambahan software lagi.

Inilah Situs-situs yang bisa digunakan untuk Download Video Youtube Tanpa Software Lagi
Download Video Youtube via Downloader 9
Downloader9 adalah Situs Web downloader yang sederhana tempat menyimpan video dari YouTube, Metacafe, Dailymotion atau Myspace dengan meng-converter link download ke file FLV. Layanan ini sangat dasar sehingga sobat harus mengganti nama file tersebut dan menemukan cara untuk memutar sendiri.

Download Video Youtube via Kepvid
Kepvid juga situs web downloader untuk solusi lain yang sederhana dan gratis untuk mendownload video dari youtube di mana sobat harus paste URL dari video untuk mendapatkan link download. Sobat dapat men-download video baik format FLV atau Format MP4 yang membuat layanan ini bisa sobat gunakan.

Download Video Youtube via Vixy
Vixy adalah web downloader yang lebih canggih dan lebih variatif pilihan format videonya : AVI, MP4, MOV, 3GP dan MP3. Format tambahan akan berguna bagi pengguna perangkat PC dan portabel. Selain itu, layanan ini ada iklan relatif sedikit untuk menjaga hal-hal yang bersih dan sederhana.

Download Video Youtube via iDesktop.tv
iDesktop.tv adalah "shareware" sumber daya yang men-download Video dari YouTube ke format berikut: MP4, MOV, AVI, WMV, FLV, EXE, 3PG, 3PG2, ZIP. Jumlah download per hari terbatas, jadi jika Sobat ingin banyak mendownload video youtube atau dukungan untuk format tambahan (. MP3) Sobat harus membayar.hehe

Download Video Youtube via VideoDownloadX
VideoDownloadX adalah web downloader yang sangat sederhana sehingga tidak ada format file tambahan, tidak ada pemutar video dan tidak ada penggantian nama file otomatis ke. FLV.

Download Video Youtube via VideoGetting
VideoGetting adalah layanan freeware yang mendukung beberapa format file tambahan (WMV, AVI, MPG, MPEG, MP3, MP4, MOV, 3GP). Disitus ini agak sedikit tidak nyaman, karena banyak iklannya. hehe...jadi berhati-hati untuk menghindari perangkap klik iklan dan lainnya.

Cara Mudah download video youtube di atas murni tanpa software ataupun plugin dan ekstensi melainkan dengan bantuan situs online downloader. OK, mungkin cuma ini yang bisa saya share dengan sobat tentang  Cara Mudah Download Video Youtube Tanpa Software Lagi. Tapi Kalau menurut saya lebih mudah pakai plugin/ekstensi.

Kumpulan Lagu-lagu India

1. chahahaitujhko download
2. enpanchiyo download
3. andhekianjaani download
4. D4_1 download
5. dilhaitumhara download
6. cakdumdumcak download
7. dilnedilkopuhara download
8. chahesubaan download
9. Deewanahaidekho download
10. humkohumise download
11. jaadojaado download
12. meraMann download
13. mujhedostikaroge download
14. omydarling download
15. meremehbob download
16. kahonaapyarhai download
17. legayi download
18. oJaana download
19. MoHaBbaTdLKaSaKoN download
20. koimilgaya download
21. ksamkakhekhaho download
22. sunonasunona download
23. pyarkikashtimeinhai download
24. saanwalisiekladki download
25. Hogayahaitujkho download
26. Chup-chupke download
27. Sajana pyarka pehra download
28. See me girl download
29. Maanga download
30. Saajan download
31. Dewana meradil dewana download
32. Best priyanka-preti sinta -rani mukerji download
33. Prityshinta. maria maria download
34. Rani mukherji download
35. Prityshinta Saif alikhan download
36. Prity woman. kalhonaho download
37. Om Shanti Om. Tum agar kaho download
38. Prityshinta.mp3 download
39. Prityshinta.dat download
40. Kabhi Khushi Kabhie Gham-BoleChudiyan download
41. kabhi khushi kabhie gham download
42. Kabhi khushi kabhi gham - Yeh Ladkadownload
43. Haila Haila - KoiMilGaya 2003 download
44. Chupke Chupke download
45. chalte chalte download
46. Bollymix - maujahi maujadil lagana download
47. Pretty Woman KalHoNaHo-With Eng Subsdownload

Tahu Nggak Sih? Asal Mula Istilah "Narsis"?


Asal Mula istilah Narsis. Konsep dan istilah narsisisme atau narsisistik berawal dari mitologi Yunani kuno tentang seorang pemuda tampan yang bernama Narsisus. Narsisus adalah putra dewa sungai, Cephissus. Pada saat itu Echo, seorang dewi yang tidak bisa berbicara, jatuh cinta kepadanya. Namun Narcisus bertindak kejam dan menolak cinta Echo. Pada suatu hari, Narsisus melewati sebuah danau yang sangat bening airnya dan melihat pantulan dirinya sendiri. Narsisus sangat mengagumi dan jatuh cinta pada pantulan itu. Narsisus sangat ingin menjamah dan memiliki wajah yang dilihatnya, tapi setiap kali mengulurkan tangannya untuk meraih pantulan itu, bayangan itu kemudian menghilang.
Narsisus tetap menunggu di tepi danau untuk mendapatkan bayangan yang menjadi obyek kekagumannya sampai mau menceburkan dirinya sendiri ke dalam danau dan akhirnya mati. Para dewa merasa kasihan padanya, sehingga Narsisus ditranformasikan menjadi tumbuhan berbunga yang diberi nama Narsisus berwarna kuning cerah, dan dikenal juga dengan nama Yellow Daffodil. Mitologi ini digunakan dalam Psikologi pertama kalinya oleh Sigmund Freud (1856-1939) untuk menggambarkan individu-individu yang menunjukkan cinta diri yang berlebihan. Freud menamakan “The narsissists” dan pelakunya disebut individu narsisistik atau seorang narsisis (http://www.psikologiums.net).
Lebih lanjut Fromm berpendapat, narsisme merupakan kondisi pengalaman seseorang yang dia rasakan sebagai sesuatu yang benar-benar nyata hanyalah tubuhnya, kebutuhannya, perasaannya, pikirannya, serta benda atau orang-orang yang masih ada hubungan dengannya. Sebaliknya, orang atau kelompok lain yang tidak menjadi bagiannya senatiasa dianggap tidak nyata, inferior, tidak memiliki arti, dan karenanya tidak perlu dihiraukan. Bahkan, ketika yang lain itu dianggap sebagai ancaman, apa pun bisa dilakukan, melalui agresi sekalipun (Pikiran Rakyat, 14/04/2003).
Menurut Spencer A Rathus dan Jeffrey S Nevid dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000), orang yang narcissistic atau narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan. Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian. Menurut Rathus dan Nevid (2000) dalam bukunya, Abnormal Psychology orang yang narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian (Kompas, Jumat, 01 April 2005).
Sedangkan menurut Papu (2002) yang mengutip DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition) orang yang narsistik akan mengalami gangguan kepribadian, gangguan kepribadian yang dimaksud adalah gangguan kepribadian narsisistik atau narcissistic personality disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain.
Lebih lanjut menurut Menurut Sadarjoen (2003) yang mengutip Mitchell JJ dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, ada lima penyebab kemunculan narsis pada remaja, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati sama orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya kontrol moral yang kuat, dan kurang rasional. Kedua aspek terakhir inilah yang paling kuat memicu narsisme yang berefek gawat.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku narsistik ditandai dengan kecenderungan untuk memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian selain itu juga tumbuh perasaan paling mampu, paling unik.
Artikel Narsis, Pengertian dan Definisinya pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada 13 Desember 2008.

Kumpulan Sholawat 99 - Habib Syech Abdul Qodir Assegaf


Kumpulan MP3 Sholawat Dari Habib Syech ini akan terus kami tambahkan hingga mencapai 99 Buah. dan selanjutkan akan kami buat kumpulan MP3 habib Syech baru versi ke 2.
Maka dari itu semoga Allah memberikan rahmat dan jalannya.
Dalam Kumpulan sholawat ini baik diambil dari secara album maupun Live Show Ahbabul Musthofa dari berbagai sumber. Berikut Daftar lagu dan Link Download MP3 Gratis :

01 Ya Habib.mp3
02 Qowiyah.mp3
03 Ya Alloh Biha.mp3
04 Maqoshidna.mp3
05 La ilaha Ilallah.mp3
06 Ya 'ala baitin nabi.mp3
07 Yaa Arhamarrahimiinn.mp3
08 Busyrolanaa.mp3
09 Dunuunii.mp3
10 Lighoiri Jamalikum.mp3
11 Maulana Yaa Maulanaa.mp3
12 Qod Tamammallahu maqosyidana.mp3
13 Habib Syech - Sholawatullohi Taghsya.mp3
14 Yaa Dzaljalaali Wal Ikraam.mp3
15 Yaa Laqolbi.mp3
16 Yaa Latifa Bil'ibad.mp3
17 Yaa Maulidal Musthofa.mp3
18 Yaa Rasulalloh Salamun Alaik.mp3
19 Yaa Robbi Makkah.mp3
20 Yaa Robbibil Musthofa.mp3
21 Yaa Nabi Salam.mp3
22 Yaa Maulidal Musthofa.mp3
23 Yaa Syayyidarrasul Yaa Tohir.mp3
24 Yaa Robbi Yaa AlimulHal.mp3
25 Bi Rojauka.mp3
26 Bijahil Musthofalmuchtar.mp3
27 Binafsi Afdii.mp3
28 Allaahu Allaah.mp3
29 Ahlan wasahlan Binnaby.MP3
30. Yaa Rabbama.mp3
31. Qod Kafaanii Ilmu Robbi.mp3
32. Yaa Rabbila'liman.mp3
33. Ilaahi Nas'aluka.mp3
34. Sholatun (Vol.7).mp3
35. Miftahul Jannah (Vol.7).mp3
36. Ya Hadi (Vol.7).mp3
37. Allahumma (Vol.7).mp3
38. Marhaban ya Nurol'aini (Vol.7).mp3
39. Burdah (Vol.7).mp3
40. Ya Kaadul (Vol.7).mp3
41.Alfa Shollalloh (Vol 6).mp3
42.Khoirol Bariyah (Vol 6).mp3
43.Assalamu 'alaik (Vol 6).mp3
44.Sholawat Badar (Vol 6).mp3
45.Thola'albadru (Vol 6).mp3
46.Khobiri (Vol 6).mp3
47. Alfa Sholallah (Live Mataram).mp3
48. Allahumma Sholli Ala Muhammad (Live Mataram).mp3
49. Tholama Asyku (Live Mataram).mp3
50. Ya Waridal (live Mataram).mp3
51. Allahumma Sholli 'ala Muhammad (Live Sragen).mp3
52. Pra-Annabi Shollu 'Alaih (Live Sragen).mp3
53. Pra-Shallallahu 'ala Muhammad (Live Sragen).mp3
54. Pra-Qod tamammallah (Live Sragen).mp3
55. La Ilaha Illallah (Allah-Allah)- (Pertamina Bersholawat).mp3
56. Sholatun Bissalamil Mubin (Pertamina Bersholawat).mp3
57. Ya Badrotim (Pertamina Bersholawat).mp3
58. Sholli wa Salim (Pertamina Bersholawat).mp3
59. Assalamu 'Alaik Zainal Anbiya' (Pertamina Bersholawat).mp3
60. Ya Habib (Pertamina Bersholawat).mp3
61. Ya Laqolbin (Pertamina Bersholawat).mp3
62. Ya Rasulullah Ya Nabi (Pertamina Bersholawat).mp3

63. Syi'ir - Syi'iran (Syair tanpo Waton) - Habib Syech (Live Kudus 2011)
64. Ya Hanana - Habib Syech (Live Kudus 2011).mp3
65. Solatun - Habib Syech (Live Kudus 2011).mp3
66. Ya Habibana Sya'ailillah - Habib Syech (Live Kudus 2011)
67. Ya Rasulallah - Habib Syech (Live Kudus 2011).mp3
68. Ya 'Ala Golbin - Habib Syech (Live Kudus 2011).mp3
69. Ya Habibi - Habib Syech (Live Kudus 2011).mp3
70. Ya Habibana - - Habib Syech (Live Kudus 2011).mp3
Untuk selanjutkan akan menyusul. Demikian Persembahan dari Kami. Semoga Bermanfaat

Ibu, Pandanganku Mencarimu


 Anak itu terus saja meronta, merengek menolak diajak ibunya ke rumah pamannya.

            “Bu, Amin nggak mau Bu. Amin nggak mau. Amin nggak mau ke rumah paman.” Katanya sambil terus menangis dan memukul-mukul lengan kiri ibunya.

            “Amin nggak mau Bu, huk…huk…Amin nggak mau tinggal di rumah paman Bu, Amin mau tinggal sama ibu, huk…huk…huk…” Ia masih terus menangis hingga menjadi pusat perhatian para penumpang bus lainnya.

            Sementara sang ibu hanya diam, pandangannya menatap ke luar jendela bus, matannya basah dan sedikit memerah. Ia berpura-pura tak perduli pada anaknya yang baru berusia sembilan tahun itu, padahal hatinya begitu iba melihat anaknya yang terus saja menangis. Ia juga tak mau berpisah dengan anaknya, dan tentu saja berat baginya untuk menitipkan anaknya di rumah adik suaminya yang tempatnya jauh dari tempat tinggalnya. Namun apa boleh buat, sepertinya tak ada pilihan lain. Karena baginya kenakalan anak bungsunya ini tak dapat lagi ditoleransi. Yah, ia berharap perilaku anak bungsunya ini akan berubah setelah tinggal bersama pamannya yang seorang tentara.

            Ibu itu masih terdiam, bibirnya yang tertutup terlihat bergetar menahan tangis. Ia mencoba sebisa mungkin menguatkan diri, mencoba menghilangkan rasa iba pada anaknya. Ia ingin anaknya berubah, berubah menjadi anak yang baik, yang tak lagi melakukan kenakalan-kenakalan yang merugikan orang lain. Karena sudah terlalu banyak kenakalan yang dilakukannya, sudah terlalu banyak orang yang dirugikannya.  Ia ingat betul kenakalan terakhir yang dilakukan anak bungsunya ini, saat ia merusak mainan mobil remote control milik temannya karena tak diijinkan meminjamnya. Tak hanya itu, ia juga memukul temannya itu sampai hidungnya berdarah. Dan karena ulah anaknya ini sang ibu harus mengganti mobil remote control yang telah dirusak anaknya sebesar dua ratus ribu rupiah serta biaya dokter seratus ribu rupiah. Baginya yang seorang janda dan hanya bekerja sebagai buruh cuci uang segitu adalah jumlah yang besar. Apa lagi saat ini ia sedang sangat membutuhkannya untuk biaya pendaftaran anaknya yang satu lagi ke SMA. Tapi bukan uang yang membuatnya terpaksa menitipkan anaknya di rumah adik suaminnya. Ia hanya tak mau anaknya tumbuh menjadi orang yang suka merugikan orang lain.

            “Bu…, Amin mau pulang Bu…, Amin mau tinggal sama ibu…huk…huk…huk…”

            Tangisan anaknya menyadarkannya dari lamunan, di usapnya air mata yang tak ia sengaja mengalir di kedua belah pipinya. Sementara beberapa penumpang bus masih memperhatikannya, entah? Apa yang ada dalam benak pikiran mereka. Namun tak sedikit pula yang acuh tak acuh, seperti juga sang sopir yang tetap berkonsentrasi dalam mengemudi tak perduli sedikitpun dengan permasalahan-permasalahan yang sedang dialami para penumpangnya. Sehingga bus terus melaju.
            Wuzzzz…….
                           
              ***

            Mereka telah sampai ke tempat yang mereka tuju, sebuah rumah berukuran kurang lebih tuju puluh meter persegi dengan halaman yang luas dan di pagari tembok setinggi satu setengah meter. Rumah seorang Tentara, duda dengan satu anak lelaki berusia dua puluh tiga tahunan. Yang sudah menunggu kedatangan mereka dari tadi di beranda rumahnya.

            “Bagaimana perjalanannya, lancar?” Kata sang paman menyambut kedatangan Amin dan ibunya.

            “Lancar.” Jawab sang ibu. Sementara amin hanya terdiam, sesenggukkan karena kelelahan menangis.

            “Ayo kita masuk dulu!” Sang paman menawarkan dengan ramah, tak terlihat sedikitpun kalau ia seorang tentara yang hidupnya keras dan sarat dengan kedisiplinan.

            “Nggak perlu, saya langsung pulang saja. Takut kemalaman sampai rumah.” Jawab sang ibu.

            “Saya titip Amin, tolong didik ia agar menjadi anak yang rajin.., yang disiplin!” Lanjut sang ibu.

            “Oh…, yah sudah terserah Mba saja.” Kata sang paman.
            “Ini semua keperluan Amin sudah saya siapkan dalam tas.” Kata sang ibu sambil menyerahkan tas ransel besar kepada adik suaminya.

            “Saya mohon pamit!” Sang ibu menjabat tangan adik suaminya kemudian melangkahkan kaki meninggalkan rumah itu.

            Amin tak membiarkan ibunya pergi, ia menggenggam erat-erat bagian bawah baju ibunya. Ia tak berkata apapun, nafasnya masih terengah-engah. Kemudian sang ibu melepaskan genggaman jari-jari anaknya dari bajunya dengan perlahan. Kemudian menggenggam tangan anaknya dan memandang lekat-lekat anak bungsunya dengan mata berkaca-kaca seraya berkata,

            “Amin, dengarkan ibu! Percayalah ibu akan selalu menyayangi Amin, makanya Amin harus janji sama ibu, Amin akan jadi anak yang baik..,anak yang berprestasi. Amin baik-baik tinggal di sini yah! Dengarkan kata-kata pamanmu. Dan berjanjilah pada ibu, Amin tidak akan kabur dari sini.., Amin jangan kembali ke rumah, biar ibu atau kakakmu saja yang menemuimu kesini! Janji yah!”

            Amin hanya mampu mengangguk. Ia masih sesenggukkan, berusaha menghentikan tangis.

            “Sekarang ibu pulang dulu, Amin jaga diri yah! Jangan nakal!” Sang ibu memalingkan tubuhnya berjalan meninggalkan rumah itu.

            Amin terus saja menatap punggung ibunya yang perlahan menjauhinya dan menghilang dari pandangannya.

            “Sudah..,nggak perlu menangis, ayo masuk!” Sang paman dengan ramah mengajak anak itu masuk. Tangan kanannya yang kekar menepuk-nepuk sayang bahu kanan Amin.

            Tetapi Amin tak memperdulikan ucapan pamannya, ia masih saja berdiri di beranda rumah pamannya. Pandangannya menatap lurus kearah pintu pagar, berharap ibunya kembali, membatalkan niatnya dan membawanya kembali untuk tinggal bersama di rumahnya seperti biasa.

             Sang paman memaklumi tingkah keponakannya itu, ia tahu betul apa yang saat ini sedang dirasakan Amin. Hingga ia pun membiarkan saja apa yang dilakukan Amin, ia meninggalkan anak itu sendirian di beranda.

             Langit tak lagi biru, matahari telah siap kembali ke tempat peraduaannya, sementara Amin masih berdiri di beranda rumah pamannya dalam posisi yang sama. Masih menatap lekat-lekat pintu pagar, dan masih dengan harapan yang sama, berharap ibunya datang untuk menjemputnya. Pamannya yang sejak tadi memperhatikannya dari ruang tamu merasa iba, matanya berkaca-kaca, hingga akhirnya ia keluar menemui keponakannya.

             “Sudahlah! Ayo masuk! Sudah sore, besok kamu harus sekolah di tempat yang baru, kamu perlu cukup istirahat!” Sang paman merangkulnya, mengajaknya masuk kerumah.

                                                ***

           Ia sedang duduk di atas tempat tidur saat sang paman membuka pintu kamarnya, kedua tangannya memeluk erat kedua kakinya yang ia tekuk. Semalaman ia tak tidur, terus memikirkan ibunya.

           “Amin, ayo mandi dan kenakkan seragam sekolahmu. Setelah sarapan Paman akan mengantarmu ke sekolah barumu.” Perintah sang paman.

           Ia bergegas menjalankan perintah sang paman karena ia sudah berjanji pada ibunya untuk mematuhi kata-kata pamannya. Ia mandi, mengenakkan seragam sekolahnya, kemudian beranjak meninggalkan kamarnya menuju meja makan untuk sarapan bersama paman dan saudara sepupunya. Setelah itu ia diantar pamannya dengan sepeda motor ke sekolah barunya.

           Ia memasuki kelas barunya di dampingi gurunya, kemudian sang guru mempersilahkanya untuk memperkenalkan diri di hadapan teman-temannya. Tapi ia hanya diam, tak berbicara sepatah kata pun. Akhirnya sang gurulah yang meperkenalkannya kepada teman-temannya,

           “Anak-anak, perkenalkan ini teman baru kalian! Namanya Muhammad Amin Rifa’i, atau biasa dipanggil Amin.” Kata sang guru yang kemudian mempersilahkan Amin duduk.

           Amin duduk di bangku pojok sebelah kanan kelas, matanya terus menatap keluar jendela. Pikirannya terus saja membayangkan ibunya sampai bel tanda sekolah berakhir berbunyi. Teman-temannya sibuk membenahi buku-buku mereka ke dalam tas, sementara Amin.., sejak tadi pagi tak satu bukupun yang ia keluarkan dari dalam tasnya. Ia berjalan dengan menunduk meninggalkan kelas. Pamannya sudah menunggu di depan sekolah untuk menjemputnya. Dalam perjalanan pulang pamanya berkata kepadanya,

           “Besok kamu berangat sendiri ke sekolah, paman akan membelikanmu sepeda!”

           Ia hanya mengangguk.

            Sesampainya di rumah pamannya kembali berkata,
           “Ganti pakaianmu kemudian makanlah, setelah itu kamu boleh melakukan apa saja. Tapi nanti malam kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh!” Kata pamannya yang mulai menerapkan disiplin.

            Seusai makan ia menghabiskan waktu luangnya untuk berdiri di beranda rumah pamannya. Matanya menatap ke arah pintu pagar, berharap pandangannya menemukan sosok wanita setengah baya yang datang untuk menemuinya. Hatinya terus berharap, ia tak pernah putus asa, karena memang Tuhan tidak menitipkan sifat putus asa pada anak-anak, hanya orang-orang dewasalah yang suka berputus asa. Dan  ketika langit mulai gelap ia tahu bahwa ibunya tak datang. Ia tak kecewa.

            “Mungkin bukan hari ini, mungkin saja besok” Gumamnya dalam hati.
                                   
 ***

            Tiga bulan telah berlalu. Tapi Amin benar-benar tak kenal putus asa, ia tak pernah lelah berdiri di beranda rumah pamannya untuk menghabiskan waktu luangnya. Pandanganya pun tak pernah lelah mencari sosok ibunya di depan pintu pagar rumah pamannya. Hari ini hari ulang tahunnya, ia berharap, hari inilah saatnya. Ia yakin, pasti hari ini wanita itu datang. Hingga setelah dua jam lebih ia berdiri di beranda , pandangannya menemukan yang selama ini ia cari, yah, ibunya. Wanita setengah baya itu berjalan menghampirinya dengan tersenyum dan mata berkaca-kaca. Spontan Amin berlari, ingin sekali rasanya ia memeluk tubuh wanita itu. Kemudian ia menangis dalam pelukan ibunya sejadi-jadinya.

            Senja tiba. Setelah seharian menemani anaknya, sang ibu harus kembali ke rumahnya. Ia memeluk anaknya erat-erat sebelum beranjak pergi, bibirnya bergetar, membisikan sesuatu di telinga anaknya,

            “Amin…, baik-baik yah di sini. Rajin-rajin belajar, buat ibu bangga. Amin di sini saja tak perlu kemana-mana! Nanti ibu akan menemuimu lagi, dan saat itu tiba Amin harus sudah menjadi anak yang berprestasi! Janji yah!”

            Kembali Amin hanya mampu mengangguk, nafasnya terengah-engah menahan tangis.

            Sang ibu berjalan meninggalkan ia pergi, berulang kali ia menoleh melihat anaknya. Sementara Amin juga menatap tubuh ibunya lekat-lekat, tubuh yang selalu ia rindukan siang dan malam.

            Di hari berikutnya Amin masih dengan kebiasaannya berdiri menunggu ibunya di beranda rumah pamannya. Meskipun ia tahu, bahwa ibunya takan kembali secepat itu. Tapi ia tak perduli, karena memang hanya itulah usaha yang bisa ia lakukan untuk bertemu dengan ibunya.

            Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dua tahunpun berlalu. Namun, ibunya tak pernah sekalipun datang lagi menemuinya. Tapi ia tak putus asa, ia masih selalu setia berdiri menunggu ibunya di beranda rumah pamannya. Pandangannya masih saja mencari-cari sosok wanita setengah baya itu, dan ia tak menemukannya. Akan tetapi pandangannya menemukan sosok anak lelaki yang ia kenal wajahnya, ia kakaknya. Ia berjalan menghampiri kakaknya, begitu juga kakaknya, kemudian keduannya berpelukkan.

            Amin memeluk kakaknya kuat-kuat, ia sangat rindu kepadanya meskipun tak sebesar rindunya pada ibunya. Sesaat kemudian ia melepaskan pelukan kakanya dan bertanya,
            “Ibu mana Kak?” Tanyanya sambil menyeka air matanya.
            “A….anu… I..ibu tidak bisa datang.” Jawab kakaknya gagap.
            “Apa ibu sakit Kak?”
            “Tidak., malah ibu titip pesan, katanya kamu harus rajin belajar.”
            “Oh…” Ia sedikit kecewa.
            Kebetulan hari ini hari minggu, ia bermain seharian bersama kakaknya satu-satunya.
                                                            ***
            Hari ini tepat enam tahun lebih empat bulan sejak ia tinggal di rumah pamannya. Hari ini ada acara pelepasan siswa-siswa kelas tiga di SMPnya. Hampir seluruh orang tua siswa hadir dalam acara ini. Seorang guru muda, tampan, penuh karisma menjadi pembawa acaranya.

            “Para Bapak, Para Ibu, dan Anak-anakku sekalian. Acara selanjutnya adalah penyerahan Piala untuk murid terbaik di sekolah kita ini yang telah membuat harum nama sekolah ini. Berbagai prestasi telah berhasil ia raih, di antaranya: ia telah berhasil menjadi juara satu lomba Matematika tingkat Provinsi, juara satu murid teladan tingkat SMP sekota”X”, dan ia juga peraih nilai UAS tertinggi pelajaran Matematika. Bersama kita sambut….! Muhammad Amin Rifa’i.” Kata pembawa acara yang di sambut dengan tepuk tangan para hadirin.

            Amin berjalan menuju panggung. Bapak Kepala sekolah telah berdiri di atas panggung siap memberikan Piala juara satu lomba Matematika tingkat provinsi. Saat serah terima, beberapa orang guru memotretnya untuk didokumentasikan. Kemudian pembawa acara memintanya untuk menyampaikan beberapa kalimat. Namun ia hanya diam, matanya menatap setiap sudut kursi pengunjung. Kembali pandangannya mencari sosok ibunya, berharap sosok wanita setengah baya itu hadir, menatapnya dengan tersenyum, bangga akan prestasi anaknya. Tapi tak ia temukan keberadaannya di sana. Yang terlihat hanya sosok paman dan kakaknya yang duduk di barisan paling belakang.

            Suasana hening menemani kebisuannya. Mereka yang hadir menatap wajah Amin lekat-lekat.
            “Semua ini,
            “Untuk ibuku.” Hanya itulah kata yang Amin ucapkan.
            Amin kembali ke tempat duduknya di barisan depan.

            Acara kembali berlanjut, pertunjukan demi pertunjukan di tampilkan. Dan acara berakhir kira-kira pukul satu siang. Para Pengunjung berhamburan meninggalkan tempat duduknya, begitu juga Amin. Ia berjalan menuju barisan belakang untuk menemui paman dan kakaknya. Tetapi sang paman sudah pergi dari tempat itu beberapa menit yang lalu, yang ia temui hanya kakaknya. Kakaknya memandang Amin dengan perasaan haru, matanya yang basah terus menatap Amin yang berjalan mendekatinya, ia begitu bangga dengan prestasi adiknya itu.

            “Kamu hebat Min, kakak bangga punya adik sepertimu.” Kata sang kakak kepada adiknya yang sudah berada di hadapannya.
            “Ibu mana Kak?” Tanya Amin dengan wajah yang murung.

            Seketika tubuh kakaknya terasa lemas mendengar pertanyaan adiknya itu, entah mengapa? Padahal pertanyaan itu sudah berulang kali ia dengar dari mulut adiknya. Tapi hari ini pertanyaan itu ia rasakan sangat berbeda, pertanyaan itu seakan batu besar yang membebani punggungnya. Hingga perasaan bahagia melihat prestasi adiknya lenyap begitu saja, menguap entah kemana?.

            “Kenapa ibu tak menemuiku Kak? Apa kau tak pernah mengatakan padanya bahwa anaknya Amin telah menjadi anak yang berprestasi, apa kau tak katakan bahwa anaknya Amin sekarang anak yang rajin?”

            Kakaknya diam mematung, lidahnya terasa kelu untuk ia gerakan.

            “Kenapa Kak? Katakan!!! Kenapa Ibu tak menemuiku? Apa ia tak percaya bahwa anaknya Amin kini tak lagi nakal? Apa ia tak percaya kalau anaknya Amin kini berprestasi?” Lanjut Amin memelas, mengharap belas kasihan.

            “Jika ibu masih tak percaya, bawalah piala ini Kak!!! Tunjukan padanya! Dan suruh ia menemuiku Kak! Kumohon padamu!!! Suruh ia menemui Amin anaknya!!! Katakan padanya, anaknya merindukannya!”

           Tak ada suara. Hening udara gerah. Semua yang ada di sekitar mereka seakan menghilang.

           “Ma..maafkan kakak Min!” Sang kakak menundukan kepala,perasaan bersalah membuat ia tak mampu menegakkan kepala di hadapan adiknya.

           “Maafkan Kakak, selama ini kakak telah membohongimu. Semua janji ibu yang ku ceritakan padamu hanyalah dusta belaka, karena……..” Sang kakak ragu melanjutkan ceritanya.

            “Karena apa Kak?” Tanya Amin dengan volume suara sepenuhnya.

            “Karena….karena…. ibu sudah meninggal enam tahun yang lalu. Semenjak berpisah denganmu ibu sering murung. Di saat waktu makan ia melamun, dan saat aku menyadarkannya untuk menyuruhnya segera menghabiskan makananya, ia malah bertanya padaku: ”Zam, apa di rumah paman, adikmu Amin makan dengan lahap seperti biasanya?

             “Dan saat malam dimana seharusnya ibu beristirahat, ia malah duduk melamun di bekas tempat tidurmu, dan saat aku menyuruhnya untuk segera beristirahat, ia malah bertanya: “Zam, apa di rumah paman, adikmu Amin tidur dengan nyenyak?

              “Kemudian aku pernah melihat ibu menangis saat melihat anak-anak tetangga sedang bermain. Saat kutanya mengapa ibu menangis, ia malah balik bertanya: “Zam, apa adikmu Amin punya teman di sana, apa pamannya akan menggendongnya saat ia menangis seperti ibu biasa menggendongnya saat berusaha menghentikan tangisannya?”

              “Lama kelamaan ibu sakit. Dan sebelum meninggal ibu pesan agar kakak tak menceritakan kematiannya padamu, ia hanya menyuruh jika kamu menanyakannya bilang saja: “Ibu akan menemuimu jika kamu tak lagi nakal dan sudah berprestasi.”. Maafkan kakak Min!” Sang kakak berhenti bercerita, diusapnya kedua pipinya yang basah karena air mata.

              Mendengar cerita dari kakaknya Amin merasa aliran-aliran darah dalam tubuhnya tak mau lagi bergerak. Tubuhnya terasa tak bertenaga. Sementara semua yang ada di sekitarnya, serasa meninggalkannya, menghilang entah kemana? membiarkannya sendiri di atas permukaan bumi, sepi. Ia merasa sangat kecil, kerdil dalam pandangan langit. Perasaan bangga yang sempat ada yang ingin ia tunjukan kepada ibunya, menguap bersama harapan-harapannya melihat senyum bahagia ibunya.

              “Bu, tahukah kau? Bertahun-tahun pandanganku mencarimu.”

Hinata

"Hinata", setiap orang yang mendengar namanya pasti menebak itu nama orang jepang.
Memang benar, ia lahir di jepang tapi di besarkan di Indonesia. Ayahnya orang Indonesia sedangkan ibunya asli orang jepang. Aku mengenalnya saat hari pertama aku masuk SD. Saat itu di belakang kelasku yang sepi, aku melihat dua kakak kelasku, entah mereka kelas berapa? Sedang meminta uang gadis kecil berambut pendek secara paksa. Berlaga jagoan aku mendekat, kemudian berteriak dengan lantang kepada kedua kakak kelasku,
 
"Hey", kembalikan uangnya!!!" Kataku yang saat itu sudah berada beberapa meter dari mereka.
 
Kedua anak itu terlihat terkejut, dan mengalihkan perhatiannya padaku. Kemudian mereka mendekatiku sampai jarak antara kami sangat dekat. Sesaat mereka tersenyum mengejekku, dan tanpa basa-basi seorang dari mereka melayangkan tinjunya tepat mengenai hidungku. Spontan aku tersungkur, hidungku berdarah, tenaganya sangat besar. Tak berhenti di situ, ia kembali melayangkan tinjunya padaku yang masih terbaring di rumput. Kali ini tepat di bawah mata kiriku hingga meninggalkan bekas, biru lebam. Kemudian mereka meninggalkanku begitu saja.
 
Gadis kecil itu kemudian mendekatiku yang masih terbaring di atas rumput, ia menangis melihat keadaanku. Dari tangisanya, aku yakin kalau ia anak yang manja. Ia terus menangis hingga aku tak tega melihatnya. Akhirnya aku berusaha menghiburnya dengan melakukan tingkah-tingkah lucu seperti mengerutkan dahi, menggerak-gerakan alis, memoncongkan mulut, aku berusaha menciptakan ekspresi lucu agar ia tertawa. Dan saat ia tertawa, ia terlihat sangat… cantik. Kedua matanya yang sipit terlihat seperti bulan sabit, bibir merahnya yang mengembang terlihat seperti merah mawar yang baru merekah, terlihat sangat serasi dengan hidung kecilnya yang mancung dan kulitnya yang putih merona. Sungguh, maha sempurna Dzat yang telah mengukir wajahnya.
 
Melihat ia tertawa akupun ikut tertawa. Hingga sesaat kemudian suasana hening saat kami menghentikan tawa.
 
Dengan pipi yang memerah gadis kecil itu menatapku, kemudian mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan,
 
"Hinata. Hinata Hinamori." Ia memperkenalkan diri.
 
Aku meraih tangannya dan memperkenalkan diriku, "Aku Ilyas. Muhammad Ilyas." Kataku.
 
Sejak saat itu kami jadi teman dekat, atau lebih tepat di sebut "sahabat". Hari-hari kami lalui bersama dengan penuh kegembiraan, berlari-lari di padang rumput di belakang sekolah, bermain bola di kubangan lumpur dalam siraman hujan, bermain layang-layang di bawah terik mentari atau bermain boneka, masak-masakan ataupun permainan lainnya. Apapun yang aku lakukan bersamanya terasa sangat menyenangkan.
 
Persahabatan kami terus berlanjaut sampai kami SMP. Yah, kami sekolah di SMP yang sama, meskipun kelas yang berbeda. Tapi Kebersamaan kami tak sesering dulu. Karena kami beda kelas? Bukan. Karena Hinata kini bukan lagi Hinata kecil yang dulu, bentuk tubuhnya sudah mulai berubah, dadanya yang mulai membesar, pinggulnya yang mulai melebar dan perubahan bagian tubuhnya yang lain membuatku merasa risih berlama-lama bersamanya. Tak hanya itu, rambutnya yang lurus dan panjang, penampilanya yang selalu menarik, dan caranya tersenyum padaku sering kali membuatku salah tingkah di depannya. Aku hanya takut cinta dan kasih sayangku kepadanya sebagai sahabat akan berubah menjadi nafsu birahi yang tak terkendali.
 
Semakin hari, Hinata semakin tumbuh menjadi gadis cantik yang mempesona. Dan hal itu membuatku terpaksa semakin menjauh darinya. Menjauh bukan karena aku membencinya, tetapi menjauh karena aku menghargainya sebagaimana seorang muslim menghargai seorang wanita. Aku tak mau menjadikan ia sebagai obyek kemaksiatan mataku, obyek pikiran kotorku dengan dalih persahabatan. Bagiku sepert ini lebih baik. Dan, jujur hal ini tak pernah mudah, berat bagiku.
 
Tak selalu bersama Hinata membuat tiga tahun di SMP terasa lama bagiku. Tapi hal itu tak berlaku bagi siswa yang lain, karena mereka mempunyai cerita sendiri-sendiri. Yah, bersama atau tak bersama Hinata waktu terus berjalan membawaku sampai pada hari pengumuman kelulusan.
 
Hari itu tak banyak siswa yang berangkat sekolah, sebagian besar dari mereka duduk manis di rumah menunggu orang tua mereka kembali membawa selembar kertas yang mampu membuat mereka merasa sangat bahagia karena dinyatakan lulus, namun juga mampu membuat membuat mereka berduka karena dinyatakan tidak lulus. Hari itu aku berangkat seperti biasanya. Aku tak masuk ke kelas karena kelas kami di penuhi para orang tua siswa yang sedang berdebar-debar hatinya menunggu hasil kerja keras anak-anaknya selama tiga tahun. Aku duduk menyendiri di bangku taman depan sekolah, memperhatikan wajah orang tua teman-temanku yang lalu lalang lewat di depanku. Tiba-tiba saja mataku menemukan sosok Hinata di antara mereka. Ia berjalan dengan santai menuju ke luar, seperti biasa pakaiannya sangat rapi dan modis. Ia berjalan dengan tegap seperti petugas pengibar bendera, kakinya yang panjang silang menyilang tangkas tak kalah indahnya dengan para supermodel yang melangkah di atas catwalk. Rambut lurusnya yang tertiup angin membuat ia semakin mempesona. Sesaat aku merasa setetes embun mengalir membasahi hatiku hingga aku merasakan damai yang tak terlukiskan. Dan saat aku menatap wajah cantiknya tiba-tiba saja ia menengok ke arahku dengan senyum yang sangat menawan. Mata kami bertemu, saling menatap, tetapi dengan cepat aku menunduk. "Astaghfirullohal"adzim." .Aku beristighfar dalam hati, berusaha menenangkan detak jantungku yang saat itu berdetak sangat kencang dan tak beraturan.
 
Sejak saat itu Hinata menghilang dari kehidupanku, aku tak pernah tahu kemana ia pergi. Kini aku hanya mampu mengenang saat-saat indah yang kulalui bersamanya. Sering aku mencoba melupakanya, namun senyum manisnya tak bosan-bosan hadir dalam khayalku. Terkadang aku tersenyum mengingatnya, tetapi kemudian menangis saat sadar ia tak lagi di sisiku. Hingga aku sadar betapa aku merindukannya dan betapa aku mencintainya.
 
***
Delapan tahun berlalu begitu lama tanpanya.
 
Saat itu hari Minggu, aku sendirian di rumah. Bapak, ibu dan Iqlina adikku sedang pergi ke rumah kakek. Sebenarnya aku ingin sekali ikut, tapi jika aku ikut pergi siapa yang akan menjaga rumah. Mau tidak mau, yah, terpaksa aku jaga rumah.
 
Aku duduk di kursi di ruang tamu. Membaca sebuah novel dengan judul "Pudarnya Pesona Cleopatra" karya Habiburrahman El Shirazy. Baru membaca beberapa lembar, tiba-tiba aku mendengar seseorang mengetuk pintu di iringi ucapan salam. Suara anak perempuan. Aku bangun dari tempat dudukku, meletakan buku yang sedang kubaca di atas meja dan berjalan menuju pintu. Tangan kananku menggengam pegangan pintu, kemudian aku membuka pintu dengan perlahan. Dan saat pintu terbuka kulihat gadis cantik berjilbab biru tepat di depanku. Spontan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya sampai-sampai otot-otot yang mengikatnya seakan tak kuat lagi menahanya. Aku merasa seperti telah membuka pintu surga dan menjumpai bidadari yang menghuninya.
 
"Astaghfirullohal'adzim" Astaghfirullohal'adzim." Aku beristighfar dalam hati berulang kali berusaha menenangkan diri dan menguasai keadaan.
 
"Maaf Mbak, Iqlinanya sedang pergi." Kataku sok tau, mengira ia teman adikku.
 
"Ilyas." Gadis itu menyebut namaku.
 
Kembali kurasakan detak jantung yang tak beraturan. Di tambah dengan kebingungan, bagaimana gadis cantik ini mengenalku? Apakah adikku pernah bercerita tentangku padanya?
 
"Maaf Mbak siapa yah?" Aku memberanikan diri bertanya.
 
"Wah, sombong kamu, masa lupa sih? Ini aku Hinata." Jawab gadis itu.
 
Mendengar jawabanya hatiku seakan meledak, mengeluarkan serpihan-serpihan kuntum bunga dari dalamnya dan berhamburan menghujaniku.
 
"Hinata?" Tanyaku yang masih ragu.
 
"Iya Hinata temanmu, lupa yah? Masa nggak di suruh masuk sih."Ucapnya dengan tersenyum.
 
Aku berjalan menuju kursi, hinata mengikuti di belakangku, dan kami pun duduk. Kami duduk berhadapan. Kupandang wajah gadis itu sesaat dan aku yakin ia benar-benar Hinata, gadis jepang teman kecilku.
 
"Ada apa denganmu?" Tanyaku yang bingung melihat perubahan yang terjadi pada dirinya.
 
"Memang kenapa? Ada yang salah" Ia balik bertanya.
 
"Ya.., tidak sih. Tapi, tentu ada alasannya dong dengan perubahanmu?"
 
Tak ada suara, hening.
 
Hingga akhirnya ia bersuara.
 
"Alasannya? Karena..." Katanya yang sedikit ragu untuk melanjutkannya.
 
Kembali tak ada suara. Kulihat pipinya memerah menahan malu, sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya
 
"Karena..., Ka..rena.., Karna aku mencintaimu." Lanjutnya terbata, kemudian ia menundukan kepala.
 
Aku terperanjat. Entah rasa seperti apa yang saat itu aku rasakan, sungguh aku tak mampu menjelaskannya.
 
"apa hubungannya coba?" Aku yang sedikit gugup.
 
"Apa kau tau, dari dulu aku mencintaimu. Aku selalu berusaha berpenampilan menarik di depanmu, berharap kamu mau memujiku. Sembilan tahun, tak pernah sekalipun kamu memujiku dengan mengatakan "Hari ini kamu cantik sekali", "Bajumu bagus" atau sekedar mengatakan "Hari ini kamu terlihat berbeda". Tak pernah..,tak pernah sekalipun. "
 
Tapi saat melihat Annisa, satu-satunya siswi berjilbab dikelasku yang saat itu membacakan Al qur'an dalam acara peringatan Isro mi'roj di sekolah, kamu langsung memujinya. Tak hanya keindahan suaranya yang, tapi kamu juga memuji kecantikannya hanya karena ia memakai jilbab. Dan tahukah kamu betapa irinya aku saat itu. Sebenarnya sejak saat itu juga aku ingin sekali memakai jilbab, berharap kamu memujiku saat melihatnya. Tapi aku malu dan aku ragu.
 
"Setelah lulus SMP aku dan keluargaku pindah ke Semarang saat itulah aku mulai mengenakan jilbab. Aku tak malu karena aku baru di situ, tak ada orang yang mengenalku sebelumnya. Tapi aku masih merasa kurang karena aku tak bisa membaca Al qur'an seperti Annisa. Hingga kuputuskan untuk melanjutkan sekolah di SMA yang berbasis Islam. Akhirnya aku bersekolah di salah satu SMA Islam Terpadu yang ada di kota itu. Disana aku mengenal Bu Afifah, dari beliaulah aku belajar Al qur'an. Dan dari beliau pula aku tau tentang Islam lebih dalam, hingga aku merubah niatku memakai jilbab, dari sekedar mengharap pujianmu menjadi niat yang ikhlas untuk menjadi muslimah yang lebih baik.
 
"Dan setelah lulus SMA aku melanjutkan kuliah di STAIN di Surakarta fakultas Tarbiyah, sama seperti Bu Afifah dulu. Yah, belialu lulusan STAIN Surakarta. Aku ingin tau tentang Islam lebih jauh lagi. Mungkin itulah kisah hidupku saat berpisah darimu."Lanjutnya panjang lebar
 
Dari tadi aku diam menyimak ceritanya. Mendengar ceritanya, kekagumanku semakin bertambah padanya. Hingga akhirnya, akupun memberanikan diri mengungkapkan perasaanku kepadanya.
 
Tiga bulan kemudian kami menikah. Persahabatan kami berlanjut kembali dalam rumah tangga kami. Dan tahukah kamu betapa bahagianya aku, karena mata ini tak perlu lagi diam-diam menatap kecantikannya tapi aku bisa menatap wajah cantiknya sepuasku. Tangannya kini halal untuk ku genggam erat-erat, dan tangganku halal untuk membelai rambut indahnya.
 
Terkadang aku masih tak percaya, bahwa wanita yang menjadi jodohku adalah Hinata gadis jepang teman kecilku. Sungguh indah rencana-Mu, ya Robb...
 
Hinata, Watashi wa anata o aishite.

- Copyright © Dari Pada Bengong - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -